Sejak akhir Juli, dan sekarang sudah menginjak akhir September, tepatnya tanggal 21 September 2022, aku masih belum memiliki pekerjaan tetap. Lebih buruk, dunia kerja sedang dilanda layoff, terutama yang pagi ini menjadi trend yaitu fenomena para HR di LinkedIn yang mencari bekas karyawan Shopee untuk dipekerjakan. Idealnya, para bekas karyawan di Shopee memang memiliki nilai tambah karena pengalaman pernah bekerja di sebuah start up besar. Fenomena ini menjadi perdebatan di Twitter karena para HR yang memburu bekas karyawan Shopee disebut-sebut hanya sedang menaikkan citra brand. Terlepas dari berbagai pendapat, saya merasa apa yang dilakukan para HR tersebut sah-sah saja. Terserah mereka bila perusahaan mereka ingin menaikkan citra brand atau memang secara spesifik membidik bekas karyawan Shopee. Saya sendiri belum mendapatkan pekerjaan dan tidak memiliki keunggulan berupa pengalaman kerja di Shopee. Saya tidak masalah dengan fenomena ini. Saya lebih percaya dengan kerja keras daripada privilege.
Meski begitu, hendaknya para HR lebih kritis dalam merekrut agar iklim dunia kerja di Indonesia tidak mundur ke belakang dengan mempertontonkan ketidaksetaraan secara terang-terangan.
Sampai saat ini, sejak dua bulan lamanya saya masih belum
mendapat pekerjaan. Solusinya hanya satu. Saya harus terus berusaha. Meratapi nasib dan
membanding-bandingkan diri itu tidak ada dalam kamus hidup ala The Great
Nabsaurus.
Daripada meratapi diri mending aku saranin untuk kamu yang butuh tambahan team sebagai content writer atau admin finance sok atuh intip LinkedIn aku yahahaha
#freshgraduate_and_eager_to_collaborate
#belum_banyak_pengalaman_tapi_bisa_diandalkan
#Rely_on_me_smile_tomorrow


Tidak ada komentar:
Posting Komentar