Kamis, 29 September 2022

Baduy Dalam dan Keasrian Alam yang Harus Dijaga

 Haii teman-teman semuaa kali ini aku mau ceritain pengalaman aku berwisata ke Baduy Dalam…

Unch unch unchhhh, adinda aposkaa siihhh bun di Baduy Dalam?

(Nanti aku ceritain dibawahhh)

Sebetulnya mungkin sekitar tiga atau empat tahun yang lalu aku sudah berencana mau ke Baduy bareng temen2 EET (Etno Edu Trip) à yaituu sebuah acara tahunan mahasiswa Antropologi untuk berjalan-jalan sekaligus memperkuat pengalaman riset di berbagai desa. Hanya sajaaa aku tidak jadi ikut meski sudah bayar (no refund ) karena disuruh pulang mamaku.

Nah di pertengahan September ini seorang teman baik (yang masih single 😊) sebut saja inisialnya D-i-t-y-a tiba-tiba mengajakku untuk HEALING dengan berwisata ke Baduy Dalam. Dicarilah jasa Open Trip lewat Instagram dan minggu berikutnya kami cusss berangkat.

Tidak mahal, untuk biaya OT per orang cukup mengeluarkan uang sebesar 200 ribu rupiah, include travel elf dari stasiun Rangkasbitung ke terminal Cikaeum (PP), tour guide yang ramah, serta penginapan selama satu malam di rumah nativenya. Ohiya aku berangkat hari Sabtu 24 Sept-25 Sept hari Minggu. FYI kira-kira dari terminal Cikaeum ke Baduy Dalam itu berjarak 12 Km dengan medan yang beuhh, pokoke klo gak nyungsep atau kejengkang anda hebat si.

Nah ada apa aja sih di Baduy Dalam😉?

Nih aku spill ya,

Baduy dalam tepatnya di Kampung Cibeo ada pemukiman warga Baduy Dalam yang kompak! Kenapa kompak? Sebab, dari bahan bangunan rumah, cara membangun struktur rumah (tidak boleh menggunakan paku), hingga pakaian mereka semuanya sama. Untuk sekilas, warga Kampung terlihat egaliter, tidak ada keluarga yang lebih menonjol dari keluarga lainnya. DISCLAIMER: Cuma sekilas ya gais, karena aku disana hanya semalaman. Meskipun egaliter, terlihat sedikit hierarki dalam struktur masyarakatnya dengan adanya Puun atau ketua adat. Ketua adat memiliki tugas untuk memimpin masyarakat dalam memutuskan suatu hal, baik itu berupa perjodohan/pernikahan, pembagian tanah adat untuk dikelola, hingga hukuman bagi anggota masyarakat yang melanggar peraturan di desa. Mungkin masih banyak lagi, seperti memimpin berbagai ritual, hanya saja aku belum berkesempatan untuk menggali lebih dalam.

Di Baduy Dalam, juga terdapat beberapa kampung lain. Jujurly aku lupa masing-masing dari kp tersebut, yang aku ingat adalah setiap kp memiliki keunggulannya masing-masing, ada yang unggul di bidang keagamaan, ada yang unggul di bidang hasil perladangan, ada juga yang unggul di bidang kerajinan. (aduh gais aku banyak lupa coba kalian langsung aja deh ke Baduy Dalam hehe).

Baduy Dalam juga memiliki keindahan alam yang masih asri, dibuktikan dengan adanya spesies serangga yang masih bertahan di sekitar sungai seperti capung yang bewarna hijau metalik dan ungu. Sangat cantik. Capung disini memiliki sayap yang berwarna mencolok. Biasanya, capung yang aku lihat sayapnya transparan, tapi capung yang aku lihat di sungai di Baduy Dalam ini memiliki sayap berwarna seperti kupu-kupu tapi kecil.

Berasa seperti di surgaaa gak sihhh, mandi di sungai ditemani dengan serangga yang cantikk. Ohiya ketika malam, aku mandi di sungai Bersama temanku, kami melihat beberapa kunang-kunang, sungguh pemandangan yang sangatttt mesmerizinggg alias mempesona. Benar-benar seperti hidup di fairytale. Satu hal yang harus kalian tahu, ketika kita berada di Baduy Dalam, gak boleh yang namanya mandi menggunakan sabun atau sikat gigi dengan pasta gigi. Jadi disini 0 limbah domestik untuk kebutuhan mandi. Tahukah kamu bahwa limbah yang mencemari sungai di Jakarta paling banyak adalah limbah domestik seperti sampo? Hal ini kuketahui ketika membaca laporan riset mengenai air untuk tugas kuliah lho.

 

Perjalanan saya ke Baduy Dalam tidak terlepas dari botol platik yang dijual di beberapa tempat selama perjalanan di hutan, di sisi lain saya sangat kesulitan dalam menemukan tempat sampah. Sebuah ironi ya, jangan sampai tingginya minat masyarakat luar terhadap Baduy turut menyumbang sampah dan merusak keasrian daerah di Baduy. Jangan sampai juga botol-botol plastik tersebut menyentuh tanah dan sungai di kawasan Baduy tersebut. Saya juga berharap, pemerintah bisa memberikan solusi berupa pembangunan infrastruktur yang memadai untuk pengolahan dan pemanfaatan air tanpa botol kemasan. Saya juga sedikit kecewa melihat sampah bekas jajanan tertinggal di rumah para native, tolong bila anda adalah petualang jagalah kebersihan dan hargailah tempat kita bersinggah. Kalau tidak mau cape-cape membawa kembali sampah yang sudah kamu bawa lebih baik tidak perlu membawa jajanan apapun. BE MINDFUL BE THOUGHTFUL!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar