Tampilkan postingan dengan label kesehatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kesehatan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 07 Juli 2021

Sinopsis Series “Ratched” Season 1 a la Nabsaurus

 

            Sebelum kalian nonton series yang merupakan karya oleh para kreator dan produser dari American Horror Story ini, aku cuma mau memperingatkan. Kalau-kalau nanti kalian akan jatuh cinta dengan seorang troublemaker seperti Edmund Tolleson yang diperankan oleh Finn Wittrock.

Eh tapi jujur deh. Sebelum kita bahas seriesnya, kalian perempuan pernah gak sih jatuh cinta dengan seorang laki-laki yang kehidupannya tidak terkontrol? Laki-laki yang tingkahnya berbeda dari manusia kebanyakan. Frankly, I did…

“…He is a dangerous man and my feminine side love it, because I feel needed badly”. Signora Nabsaurus.

But I quit, that kinda guy only last for short time my ladiesss… hahaha Of course I have designed my future and my priorities.

            Okkk back to the series… Ratched! Series ini berkisah tentang dua orang kakak beradik (bukan biologis) yatim piatu dimana masa kecil kedua kakak beradik ini begitu kelam dan menyiksa batin serta fisik mereka. Kakaknya bernama Mildred Ratched, perempuan yang berprofesi sebagai perawat. Ia adalah perawat pemberani sekaligus lemah karena kerap membunuh pasiennya demi menghentikan keputusasaan dan derita yang dialami oleh sang pasien. (Uwhooowwww)

Sejak kecil Ratched adalah seorang yatim piatu yang berpindah dari satu rumah ke rumah lainnya, hingga ia bertemu dengan anak laki-laki yang kelak menjadi adiknya yaitu Edmund Tolleson. Naasnya, keluarga angkat mereka mengadopsi anak dengan motif mendapatkan tunjangan dari pemerintah semata. Praktik kekerasan yang dilakukan oleh keluarga angkat tersebut menciptakan pribadi Ratched dan Edmund yang berbeda dari orang kebanyakan. Ratched tumbuh menjadi seorang wanita yang sering berbohong demi mendapatkan apa yang diinginkannya termasuk pekerjaannya sebagai perawat dan Edmund menjadi sosok sane sekaligus insane. Ia tidak gila tetapi ia sanggup melakukan hal yang gila. Untuk detailnya silahkan ditonton ya gais. Seperti Midsommar hehe. Cerita Ratched dan Edmund ini menunjukkan bahwa lingkungan dan pola asuh sangat mempengaruhi masa depan seorang anak. Tentunya, kedua kakak beradik ini mengalami trauma yang membentuk kepribadian dan kepedihan yang terus dibawa seumur hidupnya. Hiks...

Pada suatu hari di sekitar tahun 1947, Edmund Tolleson melakukan hal yang membuat masyarakat Katolik sangat geram dan menginginkan Edmund supaya dihukum mati gais. Nahhhhh di season pertama ini Mildred Ratched bertekad untuk menyelamatkan adiknya, satu-satunya keluarga yang ia miliki dengan bekerja di sebuah rumah sakit jiwa sebagai perawat di tempat Edmund akan diperiksa kejiwaannya. Ratched menyusun rencana dan dengan kepintaran verbalnya ia mendapatkan pekerjaan itu (padahal tidak ada posisi yang dibutuhkan lho gaisss). Buat lo yang lagi cari kerja (gue juga sieehh wkwk) boleh banget nih meniru Ratched. She is clever and confident!

Namun rencana yang dibuat oleh Ratched tidak semulus yang diharapkan. Dan yang membuat rencana itu berantakan adalah Edmund sendiri. Nah lhoooo kok bisa sihh?!! Penasaran khannnn kok bisa orang yang mau diselamatkan dari hukuman mati malah merusak rencana itu?! Gak habis thinking khan, abis baca sinopsis ini boleh lah kelen nonton. Seru gaiss!

Selain itu, film ini juga buat aku visually pleasing ya kecuali untuk adegan pembunuhannya wkwk. Tapi gak serem-serem amat kok gais. Aku suka setting waktu yang mengajak kita kembali ke tahun 1940-an dan lokasinya di sebuah rumah sakit jiwa. Tidak seperti rumah sakit yang lain, tempat ini bagus dan mewah. Ditambah dengan pakaian ala ala gaun, rambut, dan topi yang cantik sekale. Colorful. Tapi tetep serem gais. Boleh diinget ini tahun 1940-an, dimana IPTEK belum berkembang seperti sekarang. Lesbian masih dianggap gangguan jiwa dan rumah sakit itu mencoba untuk menyembuhkan lesbian. How? Tentu, dengan praktik penyembuhan yang agak sadis dan tidak masuk akal.

Awalnya nonton series ini aku kira semuanya gila gais, bukan cuma pasiennya, termasuk dokternya juga. Lulz. Ratched pun awalnya keliatan gila, perwakilan pemerintah yang gila voting juga kayanya psikopat karena sanggup melakukan hal-hal sadis demi mendapatkan dukungan masyarakat, serta perawat yang iya iya aja disuruh melakukan treatment gila oleh dokter. Gua bingung kok gila semua. Apa jangan-jangan ini series kebalik gais. Yg waras jadi pasien dan yang gila malah jadi otoritas wkwk. Ngeri bgt woii… Tapi untungnya series Ratched tidak sejauh itu. Meskipun semua orang di dunia ini memiliki gangguan mental dengan spektrum yang berbeda-beda, series ini menyajikannya dengan cukup masuk akal dan dapat dimengerti.

Selain kelebihannya dalam menyajikan visual yang menarik dengan alur yang greget, series ini mendapatkan kritik yang lumayan keras dari segi penggambaran tokoh seorang Ratched. Disebutkan bahwa series Ratched yang diadaptasi Netflix ini tidak sesuai dengan karakter Ratched yang sesungguhnya. Perlu kita ketahui bahwa series ini diadaptasi dari sebuah novel karangan Ken Kesey yang berjudul “One Flew Over the Cuckoo’s Nest”. Novel tersebut menceritakan sebuah kesuraman hidup pada masanya dimana banyak manusia yang tersiksa karena peraturan dan ketertiban birokrasi. Nah, temen-temen, aku pun belum baca novelnya tapi nanti pasti akan ku baca ya. Aku dapat dari sumber internet bahwa suster Ratched yang digambarkan dalam novel adalah orang biasa. Manusia normal yang menjadi bagian dari birokrasi. Ia dinilai cukup pedih, justru karena kenormalannya itu. Nah, sungguh berbeda dengan adaptasi Netflix yang menggambarkan suster Ratched sebagai sosok anomali karena sejak kecil hidup dalam kemiskinan dan kekerasan.

Aku jadi penasaran nih, mau baca novelnya dan juga filmnya yang rilis pada tahun 1963 dengan judul yang sama. “One Flew Over the Cuckoo’s Nest.”

Sembari menunggu season keduaaa~ See you~


Jumat, 02 Juli 2021

Sinopsis Film “I Care A Lot” a la Nabsaurus



Haiii teman-temann sepernumpangan Netflix-kuuuuu. Kali ini aku mau bikin sinopsis film “I Care A Lot” yang berkisah tentang Marla, seorang guardian yang bekerja merawat orang jompo. Nah, bagi kalian yang ingin terjun kedalam karir perjompoan boleh nih belajar dari Marla. Ooops haha.

Marla ini digambarkan sebagai seorang cewek yang tidak takut apapun dan memiliki determinasi serta fokus yang tinggi dalam mengemban karirnya. Hal ini termotivasi dari gagasan bahwa hidup kalau tidak memangsa yaaa berarti dimangsa. Kalau tidak menindas yaaa berarti menindas. Begitu kata jeunnngggg Marla. 

Film yang bergenre dark comedy ini memiliki karakter mafia yang gak serem-serem amat layaknya di film John Wick gais. Meski begitu, tetap ada adegan ancaman dan upaya pembunuhan yang dilakukan oleh mafia tersebut terhadap Marla. Ancaman dan upaya pembunuhan ini dibalas oleh Marla, penasaran bgt gak sihh alurnya bagaimana kok bisa seorang wanita bersama satu rekannya membalas perbuatan bos mafia. Uhuuu... Marla bukan tipe cewe yang dibentak nangis ya gaiss. wkwk haduu jauh bgttt dhhhh 

Jadi, Mafia itu tidak membuat hati Marla terenyuh. Tidak sedikitpun energi ambisius Marla dalam mempertahankan karirnya menciut. Malah sebaliknya. Pertarungan strategi yang sengit dengan bos Mafia itu seperti bensin bagi api ambisi Marla. Uwowwwwww. The power of DETERMINASI alias keteguhan hati gaiss.

            Selain kekuatan dari karakter utamanya, film ini juga menarik karena dikatakan oleh berbagai sumber sebagai sebuah kritik terhadap dunia kesehatan. Saya setuju, ada konspirasi antara dokter dengan sang guardian dan dalam dunia kesehatan, kita harus jeli bahwa syarat dan ketentuan untuk mendapat perawatan yang proper masih berlaku gaisss. Bagi kalian yang tertarik seputar dunia kesehatan dan bisnis boleh banget nonton film ini.

Senin, 21 September 2020

Pencurian Organ Anak: Fakta atau Hoax?

Hola! Semangat woya gini semuanyaaa 

Hari ini aku mau nulis tentang isu penculikan anak dimana organnya akan dipreteli lalu dijual.

Ngeri banget gak sih?

Waktu pertama kali aku denger rumor ini, aku cuma bisa diem, no comment. Di satu sisi ngeri tapi disisi lain belum percaya aja karena blm liat sendiri. Lalu seminggu yang lalu ku cari lah tuh berita tentang isu organ stealing ini dan ternyata sudah dibuktikan bahwa gambar-gambar yang beredar lewat medsos itu hoax oleh pihak kepolisian. Jadi, gambar-gambar yang katanya itu adalah korban organ stealing, ternyata gambar orang lain dengan kasus yang berbeda. 

Tapi gak cukup cuma sampe disitu aja, kalian juga pasti bertanya-tanya “ngapain sih spreading isu yang ngga ngga, manfaatnya apa gitu lo?”

Kalo dari pihak kepolisian sih stop sampai bukti itu palsu.

Yak! Berhenti, pake titik gak pake koma. Aku cantik mirip Obama. Ikan hiu makan tomat.

Pfftt…

Lantas, The Great Nabsaurus aka me yang kool ini pun menemukan sebuah jurnal yang ngejelasin tentang rumor pencurian organ anak-anak yang ditulis oleh Nancy Scheper-Hughes pada tahun 1996 yang berjudul "Theft of Life: The Globalization of Organ Stealing Rumour." Penelitiannya di shantytowns Brazil ya guiz...

Aku certain ya,

Awalnya rumor ini muncul di negara-negara di Amerika Selatan, kek Brazil, Argentina, Guatemala dkk…

Hampir mirip dengan orang Indonesia, sebagian orang Brazil ada yang menganggap serius rumor ini dan sebagian lagi berpendapat bahwa “ah ini mah rumor di kalangan orang yang gak berpendidikan aja kali. Stupid aja kalo sampe percaya, distribusi organ tuh diawasi oleh otoritas, pembedahannya pun gak bisa sembarangan, alat-alatnya juga harus memenuhi standar kualitas la.”

Allright! Dengan segala argumen orang-orang pinter dan temuan polisi yang haqiqi kenapa isu ini bisa tetap spreading dan bahkan menyebarrr lhooo ke seluruh belahan bumi lainnn. Termasuk Amerika Utara, Eropa, Afrika, dan Asia sehingga bisa disebut sebagai hysteria massa global?

Nah, satu benang merah yang bisa dilihat adalah, rata-rata orang yang takut dengan rumor ini sebagian besar rakyat miskin. Perlu digarisbawahi. Membayangkan rakyat miskin jangan dengan imaji bahwa mereka bodoh. Tapi. Bayangin bahwa mereka adalah manusia-manusia yang setiap hari harus menghadapi berbagai macam threats, kekerasan, serangan, pencurian, terror, akibat dari kehidupan yang begitu kejam karena kesenjangan yang begitu kentara antara mereka yang tinggal di ghetto dengan mereka yang tinggal di pusat kota. Bertahannya rumor pencurian organ ini karena orang-orang miskin tersebut mengalami “malaise of modernity” yaitu perasaan yang tidak enak terhadap modernitas.

Kenapa bisa mereka tidak nyaman dengan modernitas? Pada masyarakat di negara maju, biasanya perkembangan teknologi modern diberikan secara merata, tapi di negara-negara berkembang dengan demokrasi yang tidak stabil perkembangan teknologi modern seringkali hanya bisa dinikmati oleh kalangan tertentu saja. Dalam konteks perkembangan teknologi medis modern bahkan masyarakat miskin justru sering menjadi korban dari agresif sekaligus ignorant-nya State.  

Lewat penelitiannya yang thick description, Scheper-Hughes menggunakan metode observasi lapangan dimana ia hidup bersama subjek penelitiannya, and follow the bodies.

Dari penelitiannya itu ia menemukan berbagai kasus kejam yang dialami oleh orang-orang miskin dalam hal pelayanan kesehatan:

1 1.  Ada seorang pasien laki-laki di RS meninggal karena air tercampur dengan feses sehingga mesin dialisis terkontaminasi dan menyebabkan hepatitis yang cukup fatal. Tentu pihak keluarga sangat kecewa karena fasilitas RS publik yang sangat tidak memadai dan pemerintah pun ngga ada minta maaf ke rakyatnya. 
2.  Seorang perempuan mengalami sakit namun ketika ia pergi ke dokter malah menjadi korban malpraktik dokter dimana ia kehilangan semua gigi-giginya. Selain kehilangan giginya ia juga ditinggalkan oleh suaminya karena menjadi terlihat sangat tua. Dokter tersebut bahkan terkenal dengan kekejamannya dimana orang yang datang ke tempatnya sudah pasti lukanya semakin parah. State dimana? Tidak peduli! Lalu kenapa ada saja orang yang masih datang ke tempatnya? Orang miskin tidak memiliki banyak pilihan!
3.  Seorang perempuan mencari-cari jasad pacarnya di RS dan menemukan bahwa jasad itu sudah jadi bahan praktik mahasiswa kedokteran.
4.  Seorang anak meninggal lalu dikubur tapi beberapa waktu berikut jasadnya diganti dengan orang anak lain, hal ini memicu kesedihan karena keluarga tidak bisa ziarah dan melakukan penghormatan sesuai agamanya lagi. Lantas kemana tubuh itu?
5.  RS publik sering melakukan operasi yang tidak diperlukan guna mencari tau organ apa yang masih bagus dan bisa diambil untuk mengganti biaya berobat.

Dan masih banyak contoh-contoh lainnya. Praktik-praktik yang salah dan fasilitas yang tidak berkualitas di RS publik membuat orang-orang enggan serta takut untuk datang ke rumah sakit. Takut bahwa tubuh mereka nantinya akan diklaim oleh State.

Oke, kalo gitu, apakah semua RS pada masa itu memiliki pelayanan yang sangat jelek dan ignorant? Apa semua dokter itu jahat?

Ya tentunya enggak dong. Kita harus tau bahwa ada yang namanya unequal exchange dalam dunia Kesehatan.

Unequal exchange dalam konteks ini adalah ketimpangan pelayanan medis antara orang kaya dengan orang miskin. Orang kaya bisa dengan mudahnya memanjakan diri dengan fasilitas rumah sakit yang memadai, bisa oplas, bisa ganti organ, bisa suntik putih, suntik awet muda dengan dokter yang sangat kompeten. Sedangkan orang miskin, seperti yang sudah disebutkan tadi, sering menjadi bahan malpraktik sehingga memiliki tubuh yang cacat, mayatnya seenaknya dicampur dengan potongan mayat lain, bisa digunakan untuk bahan eksperimen mahasiswa, mati karena fasilitas yang kacau dsb. Unequal Exchange bisa juga dilihat ketika ada dua orang yang membutuhkan mata, maka sudah tentu orang kaya lah yang pasti mendapatkannya.

Oh ya, FYI, perkembangan ilmu ginekologi yaitu cabang ilmu mengenai reproduksi wanita dulu dikembangkan dengan berbagai eksperimen yang menggunakan tubuh budak wanita, dilakukan tanpa anestesi, hhhh bayangin rasa sakitnya. 

Dari penelitiannya mengenai pencurian organ anak-anak di Brazil pada tahun 1980-an ini, Sherper-Hughes mengatakan bahwa rumor ini bisa bertahan dan spreading karena berada pada tataran antara fakta dan metafor. Pada tataran tertentu bisa jadi fakta karena banyak kasus-kasus yang telah terbukti bahwa organ dan tubuh manusia bisa diklaim dan dimanipulasi oleh State atau RS. 

Pada tataran lain, bisa dikatakan metafora, yaitu tanda oleh masyarakat miskin bahwa tubuh, hidup, dan anak-anak mereka rentan terhadap bahaya. Selain kesenjangan, faktor geopolitik dan pelaksanaan proses demokrasi yang belum stabil turut memperkuat ancaman bagi masyarakat miskin. Pada masa 1980-an itu, negara-negara di Amerika Selatan sedang mengalami peperangan, kekerasan antara state dengan sipil, bahkan genosida pada suku Mayan di Guatemala. Proses demokrasi pun tidak berjalan dengan mulus, banyak anak-anak diculik dan disiksa di depan kedua orang tuanya, di culik oleh state lalu dipulangkan dengan keadaan cacat sebagai peringatan bagi anak-anak subversif lainnya dalam "Dirty War" di Argentina", kematian mendadak anak-anak jalanan di wilayah kumuh Brazil.

Kesimpulannya, 

munculnya rumor pencurian organ anak-anak jauh lebih kompleks dari sekadar fakta atau hoax. Hal ini menyangkut kesenjangan antara orang kaya dengan orang miskin, faktor geopolitik yang penuh ketegangan dimana masyarakat miskin aware dengan kekuatan State yang menghancurkan, serta faktor pelaksanaan demokrasi yang tidak stabil. Ketimpangan kuasa antara State dengan sipil terutama masyarakat miskin sangat jauh. Oleh karena itu rumor menjadi the weapon of the weak dari masyarakat tersebut. 

Sekian. 

SUMBER:

Scheper-Hughes, Nancy. "Theft of life: the globalization of organ stealing rumours." Anthropology today 12.3 (1996): 3-11.