Soo sleepy. Everytime when I must do
my final thesis. Fatigue came in, distracted my brain.
Hari ini mau
bikin catatan dari bukunya Bruno Latour ya. Sebelumnya itu kita (me, myself, and I) bahas tentang resuming
the work of ANT. Berangkat dari sebuah permasalahan yang sangat fundamental
mengenai definisi sosial, lalu Latour memberikan sugesti bagi kita untuk
menggunakan kata kolektif, asosiasi, assemblages, jaringan.
Setelah
introduksi itu, aku lanjut baca ke bagian 1 (How to deploy controversies about
the social world). Bagian 1 dari buku ini terdiri dari beberapa bab ya
gaiss.
1. Introduction:
Learning to Feed Off Controversies
Feed off controversies. Di bagian
ini poinnya adalah bahwa yang sosial itu terdiri dari kontroversi2. Selalu ada
pertentangan2. Kehadirannya merupakan sebuah paradoks. Tidak terlihat tapi
nyata dirasakan, biasa-biasa aja tapi mengejutkan, masyarakat itu terlihat solid
tapi selalu bertransformasi dan lábil.
Kehendak manusia
tidak terlepas dari pengaruh agencies. (Harus cari tau agenciesnya apa aja,
sebelum itu deskripsiin actnya dulu).
Di bagian 1 ini, penulis bakal membahas
tipe-tipe kontroversi:
1. The nature of
groups (berkaitan dengan identitas aktor2nya)
2. The nature of
action (berkaitan dengan tindakan yang kadang saling bertubrukan dan
disorientasi)
3. The nature of
objects (berkaitan dengan tipe agencies yang berpartisipasi dalam interaksi
terbuka lebar)
4. The nature of
facts (hubungan antara sains dengan masyarakat)
5. Tipe studi
dibawah sosial science tidak pernah pasti yang mana yang lebih empiris.
Untuk dapat mendeskripsikan sebuah
tatanan sosial, ANT menganjurkan untuk mengikuti kontroversi2 aktornya yang
terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Peneliti harus menapaki jejak keterhubungan
antara kontroversi2 yang ada.
FIRST SOURCE OF UNCERTAINTY: NO
GROUP, ONLY GROUP FORMATION
Ketidaktentuan
yang pertama adalah kelompok sosial. Yaa disini kita bahas tentang hakikat dari kelompok sosial
menurut teori ANT. Dalam teori ANT, kelompok sosial itu merupakan sebuah
entitas yang berada dalam proses dari ketidaktentuan, fragile, kontroversial,
dan ikatan-ikatan yang terus bergerak pindah. Kita pun termasuk dalam kelompok
sosial yang terdiri dari berbagai intervensi2 yang memungkinkan adanya
perdebatan relevansi atau kemasuk akalan kelompok satu dengan kelompok lainnya.
Perdebatan itu, gagasan bahwa satu kelompok merasa lebih relevand aripada yang
lainnya, dipengaruhi oleh ilmu-ilmu sosial (privilege), dan juga media massa
(common).
Oleh karena itu dalam mencari
karakteristik kelompok sosial, kita perlu mengikuti si aktor, menjejaki aktifitasnya
yang berhubungan dengan membentuk maupun membongkar kelompok sosial.
Keharusan kita bukan untuk
stabilisasi. Kita dimulai dari memilih mana karakteristik kelompok yang bertahan.
Dalam bahasa, kita sebaiknya
menggunakan bahasa asli dari penuturan aktornya. Tidak perlu diubah kedalam
konsep sosial. Pakai konsep aktornya saja.
DAFTAR JEJAK TERTINGGAL DARI PEMBENTUKAN
KELOMPOK SOSIAL
Dengan
menggunakan teori ANT, kita perlu terbiasa dengan berubah pindah kerangka
referensi, gak bisa berteori semana-mena kelompok masyarakat terdiri dari (x). Pembentukan
kelompok sosial meninggalkan jejak justru pada saat keaktifannya. Kelompok
sosial tidak mute ya. Aktif. Maka selalu berubah-ubah. Dengan begitu, memberikan kita data-data yang
hidup dan lebih menarik. Solusinya dalam mencari jejak tersebut adalah dengan
mengurutkan elemen-elemen yang selalu hadir atau terlihat dalam kontroversi yang
terjadi dalam kelompok sosial. Beberapa items akan selalu hadir, liat yang
mencolok itu. groups are made to talk: peta kan anti groupnya: beberapa sumber
baru diambil untuk membuat batasan kelompoknya lebih kentara.
Pertama,
untuk menggambarkan kelompok, tidak peduli apakah baru atau refreshed, kita
harus dapat berbicara kepada orang yang dapat berbicara mengenai eksistensi kelompoknya.
Kita membutuhkan seseorang yang dapat mendefinisikan siapa dirinya, bagaimana
seharusnya mereka bertindak, dan apa yang sudah dilakukannya. Justifying the
group existence. Kelompok bukanlah entitas yang diam. Merupakan produk
sementara dari hingar binger yang dibuat oleh suara-suara kontradiktif. Tidak
ada gembala kambing kalau tidak ada penggembalanya. Dan sertifikasi vaksinnya, subsidi
kerjanya etc. Ada group makers, group talkers, dan group holders.
Yang
kedua, kalau ada kelompok pasti ada anti kelompoknya. Group and anti group. Jadi
setiap kita mendefinisikan satu group, group lain juga set up as well. Kalau kita
mempelajari group, sudah pasti kita akan menggali tentang apa yang membuat
group itu eksis, bertahan, runtuh, atau hilang. Setiap aktor berada dalam
posisi yang sama dalam pembentukan sebuah kelompok. (akan lebih lanjut dibahas
nanti).
NO WORK, NO GROUP
Kelompok
adalah sebuah entitas yang secara konstan selalu berada dalam proses
pembentukan. Atau kembali dibentukkan. Dan selama kreasi tersebut terdapat
banyak jejak data yang dapat digunakan. Kelompok sosial memiliki definisi yang
sifatanya performative. Jadi bukan objek ya. Dalam ANT, kalau proses pembuatan dan
pembuatan ulang berhenti maka tidak ada yang namanya groups. Bagi sosiolog
asosiatif, peraturan utamanya adalah performance. Kalaupun kita ingin melihat
stabilitas, soliditas, komitmen, kesetiaan, ikatan, dan ketahanan maka kita
harus menggali mesinnya, alat-alatnya, instrumen2nya, dan segala material yang
memungkinkan keterikatan itu dapat terjadi. Our school views stability as exactly what has to be
explained by appealing to costly and demanding means. Pembentukan kelompok
pasti bersyarat pada upaya untuk menjaga kelompok tersebut (misal, penyebaran
misinformasi, misnformasi ini juga perlu diketahui elemen2nya sehingga
masyarakat kenapa ada yang percaya).
Dalam
ANT, yang sosial maupun masyarakat tidak eksis in the first place, kita butuh
menapaki jejak dari segala perubahan yang detail atau subtle untuk dapat
mengetahui keterhubungan yang non-sosial. (OOO jadi gitu, awalnya non-sosial,
lalu saling keterhubungan dan membentuk kelompok yang senantiasa berada dalam
proses).
Dalam
ANT, kita harus benar-benar mengikuti aktornya dan jangan menggantikan konsep
apapun yang datang dari aktornya. Occasional spark itu generated dari pergeseran
kecil dari bentuk yang sebelumnya atau yang berbeda.
MEDIATORS VS INTERMEDIARIES
Ada
perbedaan antara ostensive (menonjol) dengan performatif. Ostensive berarti objeknya
selalu ada tidak peduli indexnya apa. Kalau performatif, objeknya akan hilang kalau sudah tidak ada
performanya lagi. Ada perbedaan antara intermediaries dengan
mediators. Kalau intermediaries itu menyampaikan pemaknaan tanpa adanya
transformasi apapun. Jadi ibaratnya seperti sebuah kotak hitam yang terdiri
dari beberapa material tapi disebutnya Cuma satu aja, kotak hitam tok. Nah, kalau mediators sebaliknya, tidak
bisa dilihat hanya sebagai satu hal. Input tidak mendefinisikan output. Kalau mendeskripsikan
mediators harus spesifik ya. Mediators itu mentransformasikan, menerjemahkan,
memutarbalikkan, dan memodifikasikan makna atau elemen yang akan disampaikan.
Tidak peduli seberapa sederhana mediators terlihat, hal ini pasti kompleks,
mengarahkan kita kepada beberapa jalan yang memodifikasi semua kontradiksi. Mediator
situ ibaratnya seperti komputer. Contoh pusingnya seperti percakapan
sehari-hari. Perbedaan antara sosiolog sosial dengan sosiolog asosiasi terdapat
pada perbedaan pemahaman mengenai kedua hal ini, antara intermediaries dengan
mediators. Jadi dalam
ANT tidak ada sebab akibat ya. (a bit difficult ya). Terdapat endless mediators.
(then, how to make batasan?)
Nah,
di bagian ini Latour, menyarankan pembaca untuk mulai membuat peta tentang
kontradiksi-kontradiksi dalam kelompok sosial yang secara konstan dibangkitkan,
dihapuskan, didistribusikan, dan direalokasikan. Social aggregates, mungkin
juga tidak terbuat dari ikatan manusia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar