Kamis, 12 Mei 2022

Cara Menilai Orang Lain Ala Marcus Aurelius


Di sore yang syahdu dengan sepoi angin dan hati yang sedang healing di Starbucks Kuncit ini aku akan membahas tentang cara menilai orang lain. Tentu kita perlu kecakapan dalam menilai orang lain agar bisa menyaring mana yang perlu dipertahankan dalam kehidupan dan mana yang harus ditinggalkan. Bayangkan seberapa toxicnya hidup kita kalau tidak mampu menyaring orang. Pacar yang hanya menginginkan good sex, kerabat yang hanya menginginkan kecipratan uang, teman yang membully, bos yang sewenang-wenang dan mengeksploitasi. Psikiater mahal kak :’)

Hal pertama yang harus diperhatikan dalam menilai orang lain adalah menghindari penilaian dari kecongkakan. Jangan menilai orang lain berdasarkan keuntungan-keuntungan pribadi semata. Hilangkanlah kesombongan. Sebab, sombong akan membawa kita pada penilaian-penilaian yang keliru terhadap orang lain. Kesombongan mengarahkan kita pada penilaian yang berdasarkan pada keuntungan-keuntungan pribadi saja. Bila orang yang sedang dalam penilaian tersebut tidak cukup memuaskan bagi kita maka akan muncul kecenderungan berbagai drama, seperti penghindaran, kemarahan, kebencian, dan sikap selalu merasa mejadi korban. Bila kita sombong, bisa jadi kita lah yang toxic. Jadi buang jauh-jauh kesombongan yah dan kita harus mengaktifkan sifat-sifat keilahian dalam diri seperti keadilan, kebaikan, pengendalian diri, dan rasionalitas atau nalar.

Hal yang kedua adalah mengikuti suara hati. Dalam upaya mendengarkan suara hati, kita harus menghormati suara hati kita sendiri. Bagaimana caranya? Menghormati suara hati dapat dilakukan dengan menceraikan suara hati dari tiga hal ini: 1. Hawa nafsu, 2. Hal-hal yang remeh, 3. Rasa ketidakpuasan. Dalam menilai orang lain, kita perlu mendengarkan suara hati yang murni. Yang terlepas dari ketiga hal tersebut. Misalnya, kamu memiliki kekasih namun kamu merasa tidak betah dengannya. Periksalah alasan tidak betah tersebut berdasarkan suara hati yang murni. Apakah kamu tidak betah karena kondisi finansialnya sedang terpuruk? (keinginan memiliki harta yang banyak biasanya didorong oleh hawa nafsu) Apa kamu tidak betah dengannya karena ia beberapa kali mengatakan hal yang menyinggung hati? (tidak baik menyakiti hati orang lain, namun hal ini bisa diselesaikan dengan komunikasi langsung pada pasangan, perlakukanlah pasanganmu sebagai makhluk sosial yang rasional, bukan cenayang. Sebab, seringkali permasalahan mulut adalah kesalahan yang tidak disengaja) Apakah kamu tidak betah karena performa dan staminanya kurang? (Hal ini biasanya didorong rasa ketidakpuasan, solusinya kepuasan seksual bisa didapatkan dari berbagai cara). Setelah kita menghilangkan kecongkakan dalam diri dan memiliki suara hati yang murni maka kita bisa menimbang hubungan dengan orang lain dengan nalar dan keadilan yang akurat. Dengan cara ini, dalam menilai orang lain kita akan bisa melihat fakta dengan lebih jelas dan adil.  

Setiap orang mengalami kondisi atau situasi yang berbeda-beda, dalam menilai orang lain, ikutilah suara hatimu yang murni agar hidup lebih tenang dan sehat. Dan jangan pernah bersikap sombong dan hidup dari memanfaatkan orang lain, sebaliknya, jadilah orang yang selalu berpegang pada nalar dan tata kesopanan, bertanggung jawab atas kehidupan diri sendiri, dan mengasihi sesama. 

Senin, 09 Mei 2022

4 Alasan Nabsaurus Untuk Childfree

 Selamat sore!



Langsung aja lah, 

(1) Saya tidak memiliki tujuan apapun dalam memiliki anak. Keluarga saya sudah memiliki keturunan, pun dari keluarga lelaki saya. Kedua keluarga kami sudah sama-sama memiliki keturunan, jadi tidak ada alasan yang kuat bagi saya untuk memiliki anak. Saya berkomitmen dalam hidup untuk mengerjakan hal-hal yang bertujuan dan meninggalkan hal-hal yang tidak memiliki tujuan. Dengan begitu, dalam masa hidup manusia yang singkat ini saya tidak terbebankan dengan hal-hal yang tidak perlu. 

(2) Pada masa lalu, orang-orang berlomba-lomba untuk memiliki anak dengan tujuan membantu pekerjaan keluarga seperti bersawah, berkebun, atau berburu. Kini? Tanah semakin sempit, sumber daya banyak tercemar (seperti air bersih, udara, dan tanah akibat pengeksploitasian sumber daya alam yang berlebihan demi PROFIT). Meskipun kita perlu berprasangka baik terhadap alam, namun prasangka ini tidak dapat dijadikan alasan yang kuat dalam memiliki anak. 

(3) Banyak orang mengatakan bahwa anak-anak adalah investasi yang berharga terutama ketika orang tuanya sudah meninggal. Anak-anak yang shalih akan terus mendoakan orang tuanya. Namun dalam hidup, saya bertanggung jawab penuh atas kehidupan saya baik di dunia maupun di akhirat. Saya tidak perlu merepotkan anak-anak demi kebaikan kehidupan saya baik di dunia maupun akhirat. 

(4) Banyak anak banyak tanggungan. Anak-anak adalah makhluk unik yang tidak berdaya. Oleh karena itu, ketika kita memilikinya, maka sudah wajib hukumnya untuk merawat dan memberikan anak tersebut hal-hal yang terbaik dari orang tuanya. Saya merasa tidak sanggup dan tidak mau repot dengan hal-hal tersebut, saya lebih suka me time, jalan-jalan, dan shopping barang-barang lucu. ;) Kalau dari keluarga pasangan belum memiliki keturunan, mungkin saya bisa mengerahkan semua yang terbaik dari diri saya untuk memiliki anak, tetapi, kembali pada poin pertama, kedua keluarga kami sudah memiliki keturunan ;)