Ola semuanyaaa, malam ini saya ala The Great Nabsaurus yang lucu dan imut akan menuliskan sebuah pemahaman saya tentang bab pertama dari buku yang berjudul The Weapon of The Weak. Apa sih signifikansinya untuk blog seorang Nabsaurus? Gini bun… aku abis baca kalo gak ditulis ulang berdasarkan Bahasa sendiri takutnya lupa. Selain bacaan anak-anak Antrop, etnografi tentang resistensi ini juga menarik untuk menjadi asupan pengetahuan dalam memahami secara jeli mengenai teka-teki sebuah kehidupan. They say life is a conundrum of esoterica. Yay!
Langsung aja yoshh…
Tulisan
ini berbicara mengenai masyarakat di desa Sedaka dimana focus utama dari sang
peneliti adalah perang antar kelas.
Dalam
etnografi ini, sang peneliti pertama-tama menceritakan kehidupan seorang yang
sangat miskin bernama Razak. Pada suatu hari, anak perempuannya yang masih
balita meninggal. Namun, orang yang datang hanya sedikit. Para tetangga
bergosip mengatakan bahwa kematian anaknya itu adalah sebab dari ketidakbecusan
Razak dan istrinya Azizah dalam merawat anak. Habisnya, waktu anaknya sakit toh
malah nekat diajak kondangan padahal Razak tak diundang pun.
Cerita-cerita tidak sedap tentang Razak diceritakan
oleh para tetangga bahwa ia pernah mengambil daun nipah dibelakang rumah
seseorang tanpa meminta izin, beli kopi tapi ngambil kue juga tiga biji sama
rokok dua batang gak pake bayar, rumahnya amburadul dan ia mendapatkan bantuan
dari pemerintah berupa papan tapi papannya malah dijual. Udah gitu dijualnya
dua kali, ke Rokiah dan ke Kamil. Et dah, itu si Rokiah abis aja duitnya tapi
barangnya gak nyampe. Bener-bener dah Razak. Selain itu, kalo udah tiba hari
raya, Razak datang ke rumah warga untuk meminta zakat fitrah, hadehhhhh.
Agresif bgt. Masih ada bun ulahnya si Razak ini, dia itu kalo dikasih kerjaan
minta duitnya duluan pas besoknya kaga dateng kerja. Padahal ni ya, si Razak
ini punya tanah yang seharusnya dia bisa garap sendiri buat makan atau dijual,
tapi dia bilang badannya sakit-sakitan. Kalo penduduk desa sih nyebutnya,
malas. Dia jual bibit padi, duitnya udh dikasih tapi padinya ngga ada, selalu
beralasan. Wah, kapok gak si berurusan dengan orang model begini. Ada buanyakk
lagi deh tingkahnya. Orang-orang pada gedek bgt sama si Razak. Sampe-sampe di
desa kalo ada contoh org miskin yang buruk, udah pasti Razak disebut.
Setelah Panjang lebar ngomongin Razak, ada tokoh lain
yang mirip tapi sisi oppositenya yang bernama Haji Broom. Nama asli dari Haji Broom
ini adalah Haji Ayub. Dia kaya raya sekali bro. Kalo orang lokal rata-rata
punya sawah 2-3 acre, dia punya 600+ acre. Widihhh. Istrinya tiga fyi. Tapi dia
tinggal di rumah yang gak jauh beda dengan rumahnya Razak yang miskin itu.
Kemana-mana jalan kaki atau naik sepeda usang. Si Haji Broom ini adalah
penggambaran orang kaya yang kikirnya naudzubillah. Bahkan ia pergi ke rumah
anaknya bawa sekarung kesemek yang murah itu tapi dia pulang minta telor bebek
sekarung. Bahkan hadiah buat anak aja dijadiin profit bro.
Ngomongin orang kaya dan orang miskin disini
berdasarkan fakta sosial ya gais, bukan novel yang mendramatisir orang kaya
hidup sederhana yang humble. Bahk. Namanya aja Haji Broom, diambil dari kata
Bahasa Inggris yang artinya sapu. Dia mendapatkan kekayaannya dari menyapu
habis orang lain.
Awal bisnisnya Haji Broom adalah jasa peminjaman uang
dengan bunga 80%. Jadi, dia pinjam duit dari orang Tionghoa bunganya 40% terus dia
pinjemin lagi ke orang lokal dengan bunga 80% dengan perjanjian kalau tidak
sanggup membayar dalam waktu yang ditentukan maka tanah atau sawahnya akan
menjadi hak milik Haji Broom. Tapi, yang bikin geleng-geleng kepala adalah ketika beberapa hari akan jatuh tempo pembayaran si Haji Broom ini ngumpet,
kaga ada dirumah. Jadi orang gabisa bayar utang.
Masyarakat desa bisa memaklumi kalau orang Tionghoa
melakukan riba karena tidak diatur dalam agamanya, lah ini tuan haji kok ada
giling-gilingnya melakukan riba? Yg perlu kita tau bahwa ada banyak tuan haji
yang statusnya adalah baron atau landowner adalah orang elit yang biasanya
gelar haji mereka menjadi bahan olok-olok penduduk waktu bergosip.
Hmmm analisis sosialnya agak ribet nih ngejelasinnya…
Dari
dua cerita miskin dan kaya itu, mereka memiliki karakter yang sama yaitu
shameless. Gatau malu. Dan karakter gak tau malu inilah yang membuat mereka
capable untuk melakukan dan mendapatkan apapun yang mereka mau. Huftt. Bedanya,
orang miskin dihina-hina didepan muka, sedangkan orang kaya dihina-hina
dibelakang.
Kedua
tokoh itu menggambarkan social text dimana yg jelek memperlihatkan yang
seharusnya. Aposeee? Jadi gini, Razak dan Haji Broom itu contoh jelek, selalu
diolok-olok (Razak di olok2 di publik, Haji Broom secara privat lewat gossip
atau curhat) nah dari contoh jelek inilah si peneliti melihat hal-hal yang tidak ada dimana hal-hal tersebut dipandang oleh masyarakat Sedaka sebagai sesuatu yang seharusnya. Hal yg tidak ada itu sebuah
utopia, miskin harus rajin kerja, kaya harus dermawan. Ini yg seharusnya tapi
faktanya tidakkkkk. Tidak sesuai dengan norma yg seharusnya inilah mereka berkonflik.
Konflik
yang bagaimana sih? Apa sampe bunuh-bunuhan?
Iya, bunuh karakter hehe.
Konflik
antar kelas dalam kasus ini terlihat dari gossip, fitnah (Haji Broom
disebut-sebut kuburannya keluar asep), omongan-omongan, desas-desus. Gitu bun. Dan masyarakat miskin desa menunjukkan resistensinya dengan sikap minimal compliance (kepatuhan ala
kadarnya)
Hubungan antar si kaya dengan si miskin atau
masyarakat secara keseluruhan itu sarat dengan kekuasaan. Atau yg biasa kita
sebut dengan relasi kuasa.
Ada relasi kuasa didalamnya. Si kaya menentukan basic
script dari tatanan sosial dan tata krama yang berlaku dimana org yg lebih
miskin harus menyapa org yg lebih kaya duluan kalo ketemu. Harus ikut
bantu-bantu kalo si kaya ada hajatan, harus dateng kalo diundang hajatan, si
miskin harus kerja yang rajin untuk si kaya. Huhuu sebetulnya dalam tata
kesopanan atau norma yang berlaku pun si kaya harus dermawan serta memberikan
wejangan kepada si miskin supaya hidupnya menjadi lebih baik.
Tapi
gak boleh lupa gais, ada relasi kuasa disitu dimana yang kaya lebih dominan.
Jadi kalo si kaya tidak dermawan dan tidak memberikan pengaruh positif yaaa
tidak berdampak apa-apa. Sedangkan kalau miskin berulah, weh madesu kek Razak.
Kita gak
boleh lupa juga ada resistensi dari orang yang lebih miskin, yaitu dengan minimal
compliance (kepatuhan ala kadarnya) jadi org miskin menyapa org kaya hanya saja dg
singkat gak pake hati nyapanya, dateng hajatan yaudah sampe selesai makan
doang, gitu. Dibelakang itu, haji medit atau palsu itu (sebutan haji yg kaya
dan nyebelin di masyarakat Sedaka) difitnah, diomongin, digosipin. Tapii ya
itu, gosipnya offstage. Kalo si Razak tadi dihina depan muka, onstage.
Jadi kehidupan masyarakat pedesaan yg kelen kira adem
ayem nan sederhana itu ternyata banyak konfliknya gais. Butuh kejelian dan
pandai-pandai memahami konsep dalam menyingkap fakta itu. Untuk lebih jelasnya
kalian bisa baca bukunya James Scott “The Weapon Of The Weak” bab 1. Yg aku tulis disini mah bukan apa apa. tulisan aslinya bagus bgt sih, seruuuuu!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar