Kamis, 22 Juli 2021

Small Arms Fire In The Class War dari Buku The Weapon of The Weak oleh James Scott

            Ola semuanyaaa, malam ini saya ala The Great Nabsaurus yang lucu dan imut akan menuliskan sebuah pemahaman saya tentang bab pertama dari buku yang berjudul The Weapon of The Weak. Apa sih signifikansinya untuk blog seorang Nabsaurus? Gini bun… aku abis baca kalo gak ditulis ulang berdasarkan Bahasa sendiri takutnya lupa. Selain bacaan anak-anak Antrop, etnografi tentang resistensi ini juga menarik untuk menjadi asupan pengetahuan dalam memahami secara jeli mengenai teka-teki sebuah kehidupan. They say life is a conundrum of esoterica. Yay!

Langsung aja yoshh…

            Tulisan ini berbicara mengenai masyarakat di desa Sedaka dimana focus utama dari sang peneliti adalah perang antar kelas.

            Dalam etnografi ini, sang peneliti pertama-tama menceritakan kehidupan seorang yang sangat miskin bernama Razak. Pada suatu hari, anak perempuannya yang masih balita meninggal. Namun, orang yang datang hanya sedikit. Para tetangga bergosip mengatakan bahwa kematian anaknya itu adalah sebab dari ketidakbecusan Razak dan istrinya Azizah dalam merawat anak. Habisnya, waktu anaknya sakit toh malah nekat diajak kondangan padahal Razak tak diundang pun.

Cerita-cerita tidak sedap tentang Razak diceritakan oleh para tetangga bahwa ia pernah mengambil daun nipah dibelakang rumah seseorang tanpa meminta izin, beli kopi tapi ngambil kue juga tiga biji sama rokok dua batang gak pake bayar, rumahnya amburadul dan ia mendapatkan bantuan dari pemerintah berupa papan tapi papannya malah dijual. Udah gitu dijualnya dua kali, ke Rokiah dan ke Kamil. Et dah, itu si Rokiah abis aja duitnya tapi barangnya gak nyampe. Bener-bener dah Razak. Selain itu, kalo udah tiba hari raya, Razak datang ke rumah warga untuk meminta zakat fitrah, hadehhhhh. Agresif bgt. Masih ada bun ulahnya si Razak ini, dia itu kalo dikasih kerjaan minta duitnya duluan pas besoknya kaga dateng kerja. Padahal ni ya, si Razak ini punya tanah yang seharusnya dia bisa garap sendiri buat makan atau dijual, tapi dia bilang badannya sakit-sakitan. Kalo penduduk desa sih nyebutnya, malas. Dia jual bibit padi, duitnya udh dikasih tapi padinya ngga ada, selalu beralasan. Wah, kapok gak si berurusan dengan orang model begini. Ada buanyakk lagi deh tingkahnya. Orang-orang pada gedek bgt sama si Razak. Sampe-sampe di desa kalo ada contoh org miskin yang buruk, udah pasti Razak disebut.

Setelah Panjang lebar ngomongin Razak, ada tokoh lain yang mirip tapi sisi oppositenya yang bernama Haji Broom. Nama asli dari Haji Broom ini adalah Haji Ayub. Dia kaya raya sekali bro. Kalo orang lokal rata-rata punya sawah 2-3 acre, dia punya 600+ acre. Widihhh. Istrinya tiga fyi. Tapi dia tinggal di rumah yang gak jauh beda dengan rumahnya Razak yang miskin itu. Kemana-mana jalan kaki atau naik sepeda usang. Si Haji Broom ini adalah penggambaran orang kaya yang kikirnya naudzubillah. Bahkan ia pergi ke rumah anaknya bawa sekarung kesemek yang murah itu tapi dia pulang minta telor bebek sekarung. Bahkan hadiah buat anak aja dijadiin profit bro. 

Ngomongin orang kaya dan orang miskin disini berdasarkan fakta sosial ya gais, bukan novel yang mendramatisir orang kaya hidup sederhana yang humble. Bahk. Namanya aja Haji Broom, diambil dari kata Bahasa Inggris yang artinya sapu. Dia mendapatkan kekayaannya dari menyapu habis orang lain.

Awal bisnisnya Haji Broom adalah jasa peminjaman uang dengan bunga 80%. Jadi, dia pinjam duit dari orang Tionghoa bunganya 40% terus dia pinjemin lagi ke orang lokal dengan bunga 80% dengan perjanjian kalau tidak sanggup membayar dalam waktu yang ditentukan maka tanah atau sawahnya akan menjadi hak milik Haji Broom. Tapi, yang bikin geleng-geleng kepala adalah ketika beberapa hari akan jatuh tempo pembayaran si Haji Broom ini ngumpet, kaga ada dirumah. Jadi orang gabisa bayar utang.

Masyarakat desa bisa memaklumi kalau orang Tionghoa melakukan riba karena tidak diatur dalam agamanya, lah ini tuan haji kok ada giling-gilingnya melakukan riba? Yg perlu kita tau bahwa ada banyak tuan haji yang statusnya adalah baron atau landowner adalah orang elit yang biasanya gelar haji mereka menjadi bahan olok-olok penduduk waktu bergosip.

Hmmm analisis sosialnya agak ribet nih ngejelasinnya…

            Dari dua cerita miskin dan kaya itu, mereka memiliki karakter yang sama yaitu shameless. Gatau malu. Dan karakter gak tau malu inilah yang membuat mereka capable untuk melakukan dan mendapatkan apapun yang mereka mau. Huftt. Bedanya, orang miskin dihina-hina didepan muka, sedangkan orang kaya dihina-hina dibelakang.

            Kedua tokoh itu menggambarkan social text dimana yg jelek memperlihatkan yang seharusnya. Aposeee? Jadi gini, Razak dan Haji Broom itu contoh jelek, selalu diolok-olok (Razak di olok2 di publik, Haji Broom secara privat lewat gossip atau curhat) nah dari contoh jelek inilah si peneliti melihat hal-hal yang tidak ada dimana hal-hal tersebut dipandang oleh masyarakat Sedaka sebagai sesuatu yang seharusnya. Hal yg tidak ada itu sebuah utopia, miskin harus rajin kerja, kaya harus dermawan. Ini yg seharusnya tapi faktanya tidakkkkk. Tidak sesuai dengan norma yg seharusnya inilah mereka berkonflik.

            Konflik yang bagaimana sih? Apa sampe bunuh-bunuhan?

            Iya, bunuh karakter hehe.

            Konflik antar kelas dalam kasus ini terlihat dari gossip, fitnah (Haji Broom disebut-sebut kuburannya keluar asep), omongan-omongan, desas-desus. Gitu bun. Dan masyarakat miskin desa  menunjukkan resistensinya dengan sikap minimal compliance (kepatuhan ala kadarnya)

Hubungan antar si kaya dengan si miskin atau masyarakat secara keseluruhan itu sarat dengan kekuasaan. Atau yg biasa kita sebut dengan relasi kuasa.

Ada relasi kuasa didalamnya. Si kaya menentukan basic script dari tatanan sosial dan tata krama yang berlaku dimana org yg lebih miskin harus menyapa org yg lebih kaya duluan kalo ketemu. Harus ikut bantu-bantu kalo si kaya ada hajatan, harus dateng kalo diundang hajatan, si miskin harus kerja yang rajin untuk si kaya. Huhuu sebetulnya dalam tata kesopanan atau norma yang berlaku pun si kaya harus dermawan serta memberikan wejangan kepada si miskin supaya hidupnya menjadi lebih baik.

            Tapi gak boleh lupa gais, ada relasi kuasa disitu dimana yang kaya lebih dominan. Jadi kalo si kaya tidak dermawan dan tidak memberikan pengaruh positif yaaa tidak berdampak apa-apa. Sedangkan kalau miskin berulah, weh madesu kek Razak.

            Kita gak boleh lupa juga ada resistensi dari orang yang lebih miskin, yaitu dengan minimal compliance (kepatuhan ala kadarnya) jadi org miskin menyapa org kaya hanya saja dg singkat gak pake hati nyapanya, dateng hajatan yaudah sampe selesai makan doang, gitu. Dibelakang itu, haji medit atau palsu itu (sebutan haji yg kaya dan nyebelin di masyarakat Sedaka) difitnah, diomongin, digosipin. Tapii ya itu, gosipnya offstage. Kalo si Razak tadi dihina depan muka, onstage.

 

Jadi kehidupan masyarakat pedesaan yg kelen kira adem ayem nan sederhana itu ternyata banyak konfliknya gais. Butuh kejelian dan pandai-pandai memahami konsep dalam menyingkap fakta itu. Untuk lebih jelasnya kalian bisa baca bukunya James Scott “The Weapon Of The Weak” bab 1. Yg aku tulis disini mah bukan apa apa. tulisan aslinya bagus bgt sih, seruuuuu!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar