Jumat, 23 Juli 2021

Normal Exploitation, Normal Resistence dalam The Weapon of The Weak bab 2 Oleh James Scott

Kalau bab sebelumnya peneliti banyak menggambarkan hubungan sosial dan fakta-fakta lapangan pada masyarakat desa Sedaka. Di bab ini peneliti lebih berfokus pada analisis teoritisnya. Pertama-pertama (seingat saya) peneliti membahas mengenai konsep false consciousness dari Marx dan Gramsci ttg budak ideologi alias penjajahan pikiran yang dikontrol oleh elit. Eh gimana sih ngomongnya wkwk, jadi Gramsci ini berpendapat bahwa masyarakat proletar itu dijajah pikirannya. Contohnya, standar kecantikan lewat media, standar kehormatan dalam keagamaan dan status sosial, gitu lah. Para elit yg mengontrol ide-ide itu, sehingga masyarakat kelas proletar nerimo aja, disini namanya penjajahan pikiran. 

Tapi James Scott ini lebih detail. Menurutnya, diterima atau tidaknya value yg dikontrol oleh kelas elit tergantung dari keselarasan dengan value masyarakat proletarnya, jadi kalau tidak selaras ya ada kemungkinan membelot. Masyarakat tidak nerima-nerima aja, masyarakat proletar juga human agent yg memiliki shared value dan shared experience.

Aku pusing gais, banyak bgt isi ilmu dari bukunya James Scott ini huhu.

Okehh kita bahas judul ya, kenapa normal eksploitasi? Ya karena adanya fakta eksploitasi yg dilakukan oleh elit dalam kehidupan sehari-hari. Kenapa ada normal resistensi? Ya karena ada perlawanan yg secara pasif menolak value atau ideologi yg ditanamkan para elit dalam kehidupan sehari-hari.

Tipe resistensi pasif adalah dimana masyarakat kecil tidak berani untuk melawan secara terang-terangan sebab masih butuh makan dan pekerjaan. Perlawanan besar tidak efektif, karena pasti akan membuat para elit semakin koersif. Perlawanan sunyi dan individual inilah yg lebih efektif karena para elit tidak bisa mempidanakan atau menghukum individu itu. Resistensinya kek apa sieh? Ya itu, kalo kerja ala kadarnya, pas diliatin mandor doang kerja pas mandor meleng dia istirahat, sabotase, nipu-nipu dikit, pura-pura gak peduli, pura-pura sakit, pokoknya yg bikin menurunkan ekspektasi para elit. Ini efektif ketika dilakukan oleh banyak individu yg memiliki nasib, value, dan sejarah yg sama. Kalian pasti tau lah kalo ada bos yg ngeselin pasti pada nyengnyong satu sama lain kann. Nah ketika resistensi dari tindakan kecil itu dilakukan oleh banyak orang maka akan besar kemungkinan para elit memodifikasi kebijakan mereka, bisa jadi dengan mengubah peraturan, menambah reward atau pun semakin keras. Ibarat antozoan, semakin banyak maka awak kapal besar yang menabraknya akan mengatakan bahwa kapal akan runtuh, bukan menyalahkan antozoan itu.

(Jadi mengenai false consciousness, menurut James Scott, value yg dikontrol oleh para elit memang diterima oleh masyarakat kecil, tapi tergantung dari keselarasannya dengan value masyarakat kecil punya. Kalau tidak selaras ya masyarakat akan resisten, tapi karena butuh makan dan gamau kehilangan pekerjaan ya resistensi itu dilakukan secara subtle, halus. Makannya, ketidakselarasan value dalam hal ini tidak ditunjukkan dalam sikap yang samasekali bersebrangan. Bisa jadi masyarakat proletar menghormati yg bangsawan, tapi ya itu, fake. Ala kadarnya. Dibelakang mah tetep julid. Wkwkwk.)

Karena resistensi yang dilakukan secara halus itu lah perjuangan kelas tipe ini luput dari catatan sejarahhh.

            Okaiiiiiii huhu.

            Setelah bahas false consciousness, peneliti membahas tentang konsep “kelas”. Nahhh insight bgt buat aku yg selama ini Cuma tau bahwa kelas itu adalah kelas borjuis dan kelas proletar. Huhuuuu

Fak aku lupa.😞

Intinya sih dalam melihat kelas sosial, kita memerlukan bentuk kelas yg konkret dan berdasarkan pada pengalaman serta value yg dianut bersama oleh masyarakat tertentu dalam waktu atau konteks tertentu. Jadi kelas itu bukan sesuatu yg murni, ini terus berproses dan berubah. Kita juga perlu memerhatikan penggunaan Bahasa dalam hubungannya dengan relasi sosial yang terjadi di masyarakat (gak semua masyarakat nyebut kapitalis dg sebutan kapitalis, bisa aja disebut Haji Ceti). Kelas itu ibaratnya bukan besi murni, ia adalah campuran dari beberapa material. Oleh karena itu kita perlu memerhatikan pengalaman, value, serta pandangan masyarakat. 

Jadi, kelas adalah bentuk konkret berdasarkan pengalaman yang merefleksikan budaya dan sejarah anggota masyarakatnya. 

Boleh tambahin poin-poinnya James Scott di kolom komenn. hihiii 🙏🙏

*Kita sebagai observer gak boleh sotoy dan harus menjadi pendengar yg baik karena yg mengerti sikap seseorang adalah seseorang itu sendiri.

*interpretasi harus logis, berdasarkan bukti, dan pengalaman atau sejarah masyarakatnya. 

*Dalam meneliti proses sosial, kita selalu terbatas oleh ruang dan waktu.

 

Maaf ya aku nulis dg kalimat yg ngulang2, kalo bikin review begini pasti nilainya E.  Ewowwwww!

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar