Kalau bab sebelumnya peneliti banyak menggambarkan
hubungan sosial dan fakta-fakta lapangan pada masyarakat desa Sedaka. Di bab ini peneliti lebih berfokus pada analisis
teoritisnya. Pertama-pertama (seingat saya) peneliti membahas mengenai konsep false
consciousness dari Marx dan Gramsci ttg budak ideologi alias penjajahan pikiran
yang dikontrol oleh elit. Eh gimana sih ngomongnya wkwk, jadi
Gramsci ini berpendapat bahwa masyarakat proletar itu dijajah pikirannya.
Contohnya, standar kecantikan lewat media, standar kehormatan dalam keagamaan
dan status sosial, gitu lah. Para elit yg mengontrol ide-ide itu, sehingga
masyarakat kelas proletar nerimo aja, disini namanya penjajahan pikiran.
Tapi James Scott ini lebih detail. Menurutnya,
diterima atau tidaknya value yg dikontrol oleh kelas elit tergantung dari
keselarasan dengan value masyarakat proletarnya, jadi kalau tidak selaras ya
ada kemungkinan membelot. Masyarakat tidak nerima-nerima aja, masyarakat
proletar juga human agent yg memiliki shared value dan shared experience.
Aku pusing gais, banyak bgt isi ilmu dari bukunya
James Scott ini huhu.
Okehh kita bahas judul ya, kenapa normal eksploitasi? Ya
karena adanya fakta eksploitasi yg dilakukan oleh elit dalam kehidupan
sehari-hari. Kenapa ada normal resistensi? Ya karena ada perlawanan yg secara pasif menolak value atau ideologi yg ditanamkan para elit dalam
kehidupan sehari-hari.
Tipe resistensi pasif adalah dimana masyarakat kecil
tidak berani untuk melawan secara terang-terangan sebab masih butuh makan dan
pekerjaan. Perlawanan besar tidak efektif, karena pasti akan membuat para elit
semakin koersif. Perlawanan sunyi dan individual inilah yg lebih efektif karena
para elit tidak bisa mempidanakan atau menghukum individu itu. Resistensinya
kek apa sieh? Ya itu, kalo kerja ala kadarnya, pas diliatin mandor doang kerja
pas mandor meleng dia istirahat, sabotase, nipu-nipu dikit, pura-pura gak
peduli, pura-pura sakit, pokoknya yg bikin menurunkan ekspektasi para elit. Ini
efektif ketika dilakukan oleh banyak individu yg memiliki nasib, value, dan
sejarah yg sama. Kalian pasti tau lah kalo ada bos yg ngeselin pasti pada
nyengnyong satu sama lain kann. Nah ketika resistensi dari tindakan kecil itu
dilakukan oleh banyak orang maka akan besar kemungkinan para elit memodifikasi
kebijakan mereka, bisa jadi dengan mengubah peraturan, menambah reward atau pun
semakin keras. Ibarat antozoan, semakin banyak maka awak kapal besar yang
menabraknya akan mengatakan bahwa kapal akan runtuh, bukan menyalahkan antozoan
itu.
(Jadi mengenai false consciousness, menurut James Scott,
value yg dikontrol oleh para elit memang diterima oleh masyarakat kecil, tapi
tergantung dari keselarasannya dengan value masyarakat kecil punya. Kalau tidak
selaras ya masyarakat akan resisten, tapi karena butuh makan dan gamau
kehilangan pekerjaan ya resistensi itu dilakukan secara subtle, halus.
Makannya, ketidakselarasan value dalam hal ini tidak ditunjukkan dalam sikap
yang samasekali bersebrangan. Bisa jadi masyarakat proletar menghormati yg
bangsawan, tapi ya itu, fake. Ala kadarnya. Dibelakang mah tetep julid. Wkwkwk.)
Karena resistensi yang dilakukan secara halus itu lah
perjuangan kelas tipe ini luput dari catatan sejarahhh.
Okaiiiiiii
huhu.
Setelah
bahas false consciousness, peneliti membahas tentang konsep “kelas”. Nahhh
insight bgt buat aku yg selama ini Cuma tau bahwa kelas itu adalah kelas
borjuis dan kelas proletar. Huhuuuu
Fak aku lupa.😞
Intinya sih dalam melihat kelas sosial, kita memerlukan
bentuk kelas yg konkret dan berdasarkan pada pengalaman serta value yg dianut
bersama oleh masyarakat tertentu dalam waktu atau konteks tertentu. Jadi kelas
itu bukan sesuatu yg murni, ini terus berproses dan berubah. Kita juga perlu
memerhatikan penggunaan Bahasa dalam hubungannya dengan relasi sosial yang
terjadi di masyarakat (gak semua masyarakat nyebut kapitalis dg sebutan
kapitalis, bisa aja disebut Haji Ceti). Kelas itu ibaratnya bukan besi murni, ia
adalah campuran dari beberapa material. Oleh karena itu kita perlu memerhatikan
pengalaman, value, serta pandangan masyarakat.
Jadi, kelas adalah bentuk konkret berdasarkan pengalaman yang merefleksikan budaya dan sejarah anggota masyarakatnya.
Boleh tambahin poin-poinnya James Scott di kolom komenn. hihiii 🙏🙏
*Kita sebagai observer gak boleh sotoy dan harus menjadi
pendengar yg baik karena yg mengerti sikap seseorang adalah seseorang itu
sendiri.
*interpretasi harus logis, berdasarkan bukti, dan pengalaman atau sejarah masyarakatnya.
*Dalam meneliti proses sosial, kita selalu terbatas oleh
ruang dan waktu.
Maaf ya aku nulis dg kalimat yg ngulang2, kalo bikin review begini
pasti nilainya E. Ewowwwww!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar