Sabtu, 24 Juli 2021

Sinopsis Film The Shining ala Nabsaurus

Hola a todos! Feliz fin de semana!!

Hari ini aku mau tulis sinopsis film The Shining sebuah adaptasi dari novel Stephen King dengan judul yang sama, dan distradarai oleh Stanley Kubrick. Hal utama yang harus kalian tau adalah untuk bisa memahami film ini kita harus memahami dulu sutradaranya gaiss tapi gak perlu sampe deep lho hehe. Jadi, sedikit aja tentang Stanley Kubrick dalam film ini, ia memiliki pendapat bahwa setan itu adalah lambang optimisme manusia karena adanya kehidupan sesudah kematian. Jadi dalam film ini, setan gak keliatan ganas sih, biasa aja. Bedaaaa bgt sama film horror yang setannya jahat, disini setan gak begitu berpengaruh terhadap manusia, ia hanya menjadi trigger. Wihhh, horrornya dimana dong? Tetep ada horrornya dan kelen harus nonton serta menganalisis sendiri ya wkwkwk. Disinilah film The Shining menjadi film horror yg relate dan keren abizz.

            Film ini berkisah tentang seorang penulis yang memiliki pekerjaan sampingan sebagai caretaker sebuah hotel yang akan ditutup selama musim dingin. Hotelnya bernama Overlook, hotel tua yang mevvah dan memiliki banyak ornament suku Indian didalamnya. Pada saat interview pekerjaan, Jack Nicholson yang berperan sebagai Jack sudah diperingatkan oleh pengelola hotel bahwa pekerjaan ini berat. Gak semua orang mampu karena terisolasi selama musim dingin merupakan hal yang sulit. Depressing. Bikin stress. Sang pengelola hotel juga memperingatkan Jack bahwa caretaker sebelumnya, Gradey mengalami mental breakdown sampai-sampai ia membunuh keluarganya lalu bunuh diri.

            Dengan segala cerita masa lalu yg mengerikan itu, Jack tetap bersikeras untuk mendapatkan pekerjaan tersebut tanpa memberitahu tahu terlebih dahulu tentang masa lalu hotel tersebut kepada istrinya. Sebulan pertama aman, tapi bulan-bulan berikutnya nggak wkwk. Ada adegan-adegan yang menegangkan, ada setan juga. Tapi adegan menegangkan itu bukan karena setannya usil gais.

Film yg berdurasi kurang lebih dua jam ini sejujurnya bikin aku bingung, ini kok ada setan tapi setannya b aja siehhh. Aku nunggu setannya beraksi ternyata gak ada gengsss.

Yg harus kalian tau adalah…

Film yang bergenre horror ini berpusat pada ke-horror-an sisi gelap yg ada dalam diri manusianya. Dalam diri setiap manusia, ada sisi “baik” dan ada sisi “jahat”. Setan dalam film ini hanya mentrigger sisi jahat manusia, kalau memang orang itu memiliki sisi “jahat” yg dominan maka akan berakhir dengan kekerasan yg tragis. Kalau memang ia memiliki sisi dominan itu “baik” maka kemungkinan dengan segala tekanan dan kekerasan yang dialaminya, meskipun terlihat lemah sekalipun ia dapat menang dari sebuah ancaman kejahatan. Oleh karena itu, tragedi horror ini bisa relate dengan siapapun.

            Selain manyinggung sisi normal dan sisi kelam manusia, film ini juga menyiratkan isu kolonialisme, rasisme, dan misoginis. 

Misoginis adalah orang yang memiliki rasa tidak suka atau memiliki kebencian yg tidak masuk akal terhadap wanita. Hmmm gitu. Jadi sisi jahat Jack itu keliatan ya gengsss, suka merendahkan wanita meskipun itu istrinya, pasif agresif, rasis (tidak empatik dan tidak menghargai kebudayaan lain), menganggap dirinya superior dan gak mampu mengendalikan emosi.

 

Menurut aku ini keren bgt. Gak seperti film horror kebanyakan dimana org yg innocent selalu kerasukan dan menyerang org innocent lainnya. Di film ini, manusia yg ketrigger dg setannya itu emang dari awal sudah BAD BAD  BAD BAD person… 

 

Jumat, 23 Juli 2021

Normal Exploitation, Normal Resistence dalam The Weapon of The Weak bab 2 Oleh James Scott

Kalau bab sebelumnya peneliti banyak menggambarkan hubungan sosial dan fakta-fakta lapangan pada masyarakat desa Sedaka. Di bab ini peneliti lebih berfokus pada analisis teoritisnya. Pertama-pertama (seingat saya) peneliti membahas mengenai konsep false consciousness dari Marx dan Gramsci ttg budak ideologi alias penjajahan pikiran yang dikontrol oleh elit. Eh gimana sih ngomongnya wkwk, jadi Gramsci ini berpendapat bahwa masyarakat proletar itu dijajah pikirannya. Contohnya, standar kecantikan lewat media, standar kehormatan dalam keagamaan dan status sosial, gitu lah. Para elit yg mengontrol ide-ide itu, sehingga masyarakat kelas proletar nerimo aja, disini namanya penjajahan pikiran. 

Tapi James Scott ini lebih detail. Menurutnya, diterima atau tidaknya value yg dikontrol oleh kelas elit tergantung dari keselarasan dengan value masyarakat proletarnya, jadi kalau tidak selaras ya ada kemungkinan membelot. Masyarakat tidak nerima-nerima aja, masyarakat proletar juga human agent yg memiliki shared value dan shared experience.

Aku pusing gais, banyak bgt isi ilmu dari bukunya James Scott ini huhu.

Okehh kita bahas judul ya, kenapa normal eksploitasi? Ya karena adanya fakta eksploitasi yg dilakukan oleh elit dalam kehidupan sehari-hari. Kenapa ada normal resistensi? Ya karena ada perlawanan yg secara pasif menolak value atau ideologi yg ditanamkan para elit dalam kehidupan sehari-hari.

Tipe resistensi pasif adalah dimana masyarakat kecil tidak berani untuk melawan secara terang-terangan sebab masih butuh makan dan pekerjaan. Perlawanan besar tidak efektif, karena pasti akan membuat para elit semakin koersif. Perlawanan sunyi dan individual inilah yg lebih efektif karena para elit tidak bisa mempidanakan atau menghukum individu itu. Resistensinya kek apa sieh? Ya itu, kalo kerja ala kadarnya, pas diliatin mandor doang kerja pas mandor meleng dia istirahat, sabotase, nipu-nipu dikit, pura-pura gak peduli, pura-pura sakit, pokoknya yg bikin menurunkan ekspektasi para elit. Ini efektif ketika dilakukan oleh banyak individu yg memiliki nasib, value, dan sejarah yg sama. Kalian pasti tau lah kalo ada bos yg ngeselin pasti pada nyengnyong satu sama lain kann. Nah ketika resistensi dari tindakan kecil itu dilakukan oleh banyak orang maka akan besar kemungkinan para elit memodifikasi kebijakan mereka, bisa jadi dengan mengubah peraturan, menambah reward atau pun semakin keras. Ibarat antozoan, semakin banyak maka awak kapal besar yang menabraknya akan mengatakan bahwa kapal akan runtuh, bukan menyalahkan antozoan itu.

(Jadi mengenai false consciousness, menurut James Scott, value yg dikontrol oleh para elit memang diterima oleh masyarakat kecil, tapi tergantung dari keselarasannya dengan value masyarakat kecil punya. Kalau tidak selaras ya masyarakat akan resisten, tapi karena butuh makan dan gamau kehilangan pekerjaan ya resistensi itu dilakukan secara subtle, halus. Makannya, ketidakselarasan value dalam hal ini tidak ditunjukkan dalam sikap yang samasekali bersebrangan. Bisa jadi masyarakat proletar menghormati yg bangsawan, tapi ya itu, fake. Ala kadarnya. Dibelakang mah tetep julid. Wkwkwk.)

Karena resistensi yang dilakukan secara halus itu lah perjuangan kelas tipe ini luput dari catatan sejarahhh.

            Okaiiiiiii huhu.

            Setelah bahas false consciousness, peneliti membahas tentang konsep “kelas”. Nahhh insight bgt buat aku yg selama ini Cuma tau bahwa kelas itu adalah kelas borjuis dan kelas proletar. Huhuuuu

Fak aku lupa.😞

Intinya sih dalam melihat kelas sosial, kita memerlukan bentuk kelas yg konkret dan berdasarkan pada pengalaman serta value yg dianut bersama oleh masyarakat tertentu dalam waktu atau konteks tertentu. Jadi kelas itu bukan sesuatu yg murni, ini terus berproses dan berubah. Kita juga perlu memerhatikan penggunaan Bahasa dalam hubungannya dengan relasi sosial yang terjadi di masyarakat (gak semua masyarakat nyebut kapitalis dg sebutan kapitalis, bisa aja disebut Haji Ceti). Kelas itu ibaratnya bukan besi murni, ia adalah campuran dari beberapa material. Oleh karena itu kita perlu memerhatikan pengalaman, value, serta pandangan masyarakat. 

Jadi, kelas adalah bentuk konkret berdasarkan pengalaman yang merefleksikan budaya dan sejarah anggota masyarakatnya. 

Boleh tambahin poin-poinnya James Scott di kolom komenn. hihiii 🙏🙏

*Kita sebagai observer gak boleh sotoy dan harus menjadi pendengar yg baik karena yg mengerti sikap seseorang adalah seseorang itu sendiri.

*interpretasi harus logis, berdasarkan bukti, dan pengalaman atau sejarah masyarakatnya. 

*Dalam meneliti proses sosial, kita selalu terbatas oleh ruang dan waktu.

 

Maaf ya aku nulis dg kalimat yg ngulang2, kalo bikin review begini pasti nilainya E.  Ewowwwww!

 

Kamis, 22 Juli 2021

Small Arms Fire In The Class War dari Buku The Weapon of The Weak oleh James Scott

            Ola semuanyaaa, malam ini saya ala The Great Nabsaurus yang lucu dan imut akan menuliskan sebuah pemahaman saya tentang bab pertama dari buku yang berjudul The Weapon of The Weak. Apa sih signifikansinya untuk blog seorang Nabsaurus? Gini bun… aku abis baca kalo gak ditulis ulang berdasarkan Bahasa sendiri takutnya lupa. Selain bacaan anak-anak Antrop, etnografi tentang resistensi ini juga menarik untuk menjadi asupan pengetahuan dalam memahami secara jeli mengenai teka-teki sebuah kehidupan. They say life is a conundrum of esoterica. Yay!

Langsung aja yoshh…

            Tulisan ini berbicara mengenai masyarakat di desa Sedaka dimana focus utama dari sang peneliti adalah perang antar kelas.

            Dalam etnografi ini, sang peneliti pertama-tama menceritakan kehidupan seorang yang sangat miskin bernama Razak. Pada suatu hari, anak perempuannya yang masih balita meninggal. Namun, orang yang datang hanya sedikit. Para tetangga bergosip mengatakan bahwa kematian anaknya itu adalah sebab dari ketidakbecusan Razak dan istrinya Azizah dalam merawat anak. Habisnya, waktu anaknya sakit toh malah nekat diajak kondangan padahal Razak tak diundang pun.

Cerita-cerita tidak sedap tentang Razak diceritakan oleh para tetangga bahwa ia pernah mengambil daun nipah dibelakang rumah seseorang tanpa meminta izin, beli kopi tapi ngambil kue juga tiga biji sama rokok dua batang gak pake bayar, rumahnya amburadul dan ia mendapatkan bantuan dari pemerintah berupa papan tapi papannya malah dijual. Udah gitu dijualnya dua kali, ke Rokiah dan ke Kamil. Et dah, itu si Rokiah abis aja duitnya tapi barangnya gak nyampe. Bener-bener dah Razak. Selain itu, kalo udah tiba hari raya, Razak datang ke rumah warga untuk meminta zakat fitrah, hadehhhhh. Agresif bgt. Masih ada bun ulahnya si Razak ini, dia itu kalo dikasih kerjaan minta duitnya duluan pas besoknya kaga dateng kerja. Padahal ni ya, si Razak ini punya tanah yang seharusnya dia bisa garap sendiri buat makan atau dijual, tapi dia bilang badannya sakit-sakitan. Kalo penduduk desa sih nyebutnya, malas. Dia jual bibit padi, duitnya udh dikasih tapi padinya ngga ada, selalu beralasan. Wah, kapok gak si berurusan dengan orang model begini. Ada buanyakk lagi deh tingkahnya. Orang-orang pada gedek bgt sama si Razak. Sampe-sampe di desa kalo ada contoh org miskin yang buruk, udah pasti Razak disebut.

Setelah Panjang lebar ngomongin Razak, ada tokoh lain yang mirip tapi sisi oppositenya yang bernama Haji Broom. Nama asli dari Haji Broom ini adalah Haji Ayub. Dia kaya raya sekali bro. Kalo orang lokal rata-rata punya sawah 2-3 acre, dia punya 600+ acre. Widihhh. Istrinya tiga fyi. Tapi dia tinggal di rumah yang gak jauh beda dengan rumahnya Razak yang miskin itu. Kemana-mana jalan kaki atau naik sepeda usang. Si Haji Broom ini adalah penggambaran orang kaya yang kikirnya naudzubillah. Bahkan ia pergi ke rumah anaknya bawa sekarung kesemek yang murah itu tapi dia pulang minta telor bebek sekarung. Bahkan hadiah buat anak aja dijadiin profit bro. 

Ngomongin orang kaya dan orang miskin disini berdasarkan fakta sosial ya gais, bukan novel yang mendramatisir orang kaya hidup sederhana yang humble. Bahk. Namanya aja Haji Broom, diambil dari kata Bahasa Inggris yang artinya sapu. Dia mendapatkan kekayaannya dari menyapu habis orang lain.

Awal bisnisnya Haji Broom adalah jasa peminjaman uang dengan bunga 80%. Jadi, dia pinjam duit dari orang Tionghoa bunganya 40% terus dia pinjemin lagi ke orang lokal dengan bunga 80% dengan perjanjian kalau tidak sanggup membayar dalam waktu yang ditentukan maka tanah atau sawahnya akan menjadi hak milik Haji Broom. Tapi, yang bikin geleng-geleng kepala adalah ketika beberapa hari akan jatuh tempo pembayaran si Haji Broom ini ngumpet, kaga ada dirumah. Jadi orang gabisa bayar utang.

Masyarakat desa bisa memaklumi kalau orang Tionghoa melakukan riba karena tidak diatur dalam agamanya, lah ini tuan haji kok ada giling-gilingnya melakukan riba? Yg perlu kita tau bahwa ada banyak tuan haji yang statusnya adalah baron atau landowner adalah orang elit yang biasanya gelar haji mereka menjadi bahan olok-olok penduduk waktu bergosip.

Hmmm analisis sosialnya agak ribet nih ngejelasinnya…

            Dari dua cerita miskin dan kaya itu, mereka memiliki karakter yang sama yaitu shameless. Gatau malu. Dan karakter gak tau malu inilah yang membuat mereka capable untuk melakukan dan mendapatkan apapun yang mereka mau. Huftt. Bedanya, orang miskin dihina-hina didepan muka, sedangkan orang kaya dihina-hina dibelakang.

            Kedua tokoh itu menggambarkan social text dimana yg jelek memperlihatkan yang seharusnya. Aposeee? Jadi gini, Razak dan Haji Broom itu contoh jelek, selalu diolok-olok (Razak di olok2 di publik, Haji Broom secara privat lewat gossip atau curhat) nah dari contoh jelek inilah si peneliti melihat hal-hal yang tidak ada dimana hal-hal tersebut dipandang oleh masyarakat Sedaka sebagai sesuatu yang seharusnya. Hal yg tidak ada itu sebuah utopia, miskin harus rajin kerja, kaya harus dermawan. Ini yg seharusnya tapi faktanya tidakkkkk. Tidak sesuai dengan norma yg seharusnya inilah mereka berkonflik.

            Konflik yang bagaimana sih? Apa sampe bunuh-bunuhan?

            Iya, bunuh karakter hehe.

            Konflik antar kelas dalam kasus ini terlihat dari gossip, fitnah (Haji Broom disebut-sebut kuburannya keluar asep), omongan-omongan, desas-desus. Gitu bun. Dan masyarakat miskin desa  menunjukkan resistensinya dengan sikap minimal compliance (kepatuhan ala kadarnya)

Hubungan antar si kaya dengan si miskin atau masyarakat secara keseluruhan itu sarat dengan kekuasaan. Atau yg biasa kita sebut dengan relasi kuasa.

Ada relasi kuasa didalamnya. Si kaya menentukan basic script dari tatanan sosial dan tata krama yang berlaku dimana org yg lebih miskin harus menyapa org yg lebih kaya duluan kalo ketemu. Harus ikut bantu-bantu kalo si kaya ada hajatan, harus dateng kalo diundang hajatan, si miskin harus kerja yang rajin untuk si kaya. Huhuu sebetulnya dalam tata kesopanan atau norma yang berlaku pun si kaya harus dermawan serta memberikan wejangan kepada si miskin supaya hidupnya menjadi lebih baik.

            Tapi gak boleh lupa gais, ada relasi kuasa disitu dimana yang kaya lebih dominan. Jadi kalo si kaya tidak dermawan dan tidak memberikan pengaruh positif yaaa tidak berdampak apa-apa. Sedangkan kalau miskin berulah, weh madesu kek Razak.

            Kita gak boleh lupa juga ada resistensi dari orang yang lebih miskin, yaitu dengan minimal compliance (kepatuhan ala kadarnya) jadi org miskin menyapa org kaya hanya saja dg singkat gak pake hati nyapanya, dateng hajatan yaudah sampe selesai makan doang, gitu. Dibelakang itu, haji medit atau palsu itu (sebutan haji yg kaya dan nyebelin di masyarakat Sedaka) difitnah, diomongin, digosipin. Tapii ya itu, gosipnya offstage. Kalo si Razak tadi dihina depan muka, onstage.

 

Jadi kehidupan masyarakat pedesaan yg kelen kira adem ayem nan sederhana itu ternyata banyak konfliknya gais. Butuh kejelian dan pandai-pandai memahami konsep dalam menyingkap fakta itu. Untuk lebih jelasnya kalian bisa baca bukunya James Scott “The Weapon Of The Weak” bab 1. Yg aku tulis disini mah bukan apa apa. tulisan aslinya bagus bgt sih, seruuuuu!

Rabu, 07 Juli 2021

Sinopsis Series “Ratched” Season 1 a la Nabsaurus

 

            Sebelum kalian nonton series yang merupakan karya oleh para kreator dan produser dari American Horror Story ini, aku cuma mau memperingatkan. Kalau-kalau nanti kalian akan jatuh cinta dengan seorang troublemaker seperti Edmund Tolleson yang diperankan oleh Finn Wittrock.

Eh tapi jujur deh. Sebelum kita bahas seriesnya, kalian perempuan pernah gak sih jatuh cinta dengan seorang laki-laki yang kehidupannya tidak terkontrol? Laki-laki yang tingkahnya berbeda dari manusia kebanyakan. Frankly, I did…

“…He is a dangerous man and my feminine side love it, because I feel needed badly”. Signora Nabsaurus.

But I quit, that kinda guy only last for short time my ladiesss… hahaha Of course I have designed my future and my priorities.

            Okkk back to the series… Ratched! Series ini berkisah tentang dua orang kakak beradik (bukan biologis) yatim piatu dimana masa kecil kedua kakak beradik ini begitu kelam dan menyiksa batin serta fisik mereka. Kakaknya bernama Mildred Ratched, perempuan yang berprofesi sebagai perawat. Ia adalah perawat pemberani sekaligus lemah karena kerap membunuh pasiennya demi menghentikan keputusasaan dan derita yang dialami oleh sang pasien. (Uwhooowwww)

Sejak kecil Ratched adalah seorang yatim piatu yang berpindah dari satu rumah ke rumah lainnya, hingga ia bertemu dengan anak laki-laki yang kelak menjadi adiknya yaitu Edmund Tolleson. Naasnya, keluarga angkat mereka mengadopsi anak dengan motif mendapatkan tunjangan dari pemerintah semata. Praktik kekerasan yang dilakukan oleh keluarga angkat tersebut menciptakan pribadi Ratched dan Edmund yang berbeda dari orang kebanyakan. Ratched tumbuh menjadi seorang wanita yang sering berbohong demi mendapatkan apa yang diinginkannya termasuk pekerjaannya sebagai perawat dan Edmund menjadi sosok sane sekaligus insane. Ia tidak gila tetapi ia sanggup melakukan hal yang gila. Untuk detailnya silahkan ditonton ya gais. Seperti Midsommar hehe. Cerita Ratched dan Edmund ini menunjukkan bahwa lingkungan dan pola asuh sangat mempengaruhi masa depan seorang anak. Tentunya, kedua kakak beradik ini mengalami trauma yang membentuk kepribadian dan kepedihan yang terus dibawa seumur hidupnya. Hiks...

Pada suatu hari di sekitar tahun 1947, Edmund Tolleson melakukan hal yang membuat masyarakat Katolik sangat geram dan menginginkan Edmund supaya dihukum mati gais. Nahhhhh di season pertama ini Mildred Ratched bertekad untuk menyelamatkan adiknya, satu-satunya keluarga yang ia miliki dengan bekerja di sebuah rumah sakit jiwa sebagai perawat di tempat Edmund akan diperiksa kejiwaannya. Ratched menyusun rencana dan dengan kepintaran verbalnya ia mendapatkan pekerjaan itu (padahal tidak ada posisi yang dibutuhkan lho gaisss). Buat lo yang lagi cari kerja (gue juga sieehh wkwk) boleh banget nih meniru Ratched. She is clever and confident!

Namun rencana yang dibuat oleh Ratched tidak semulus yang diharapkan. Dan yang membuat rencana itu berantakan adalah Edmund sendiri. Nah lhoooo kok bisa sihh?!! Penasaran khannnn kok bisa orang yang mau diselamatkan dari hukuman mati malah merusak rencana itu?! Gak habis thinking khan, abis baca sinopsis ini boleh lah kelen nonton. Seru gaiss!

Selain itu, film ini juga buat aku visually pleasing ya kecuali untuk adegan pembunuhannya wkwk. Tapi gak serem-serem amat kok gais. Aku suka setting waktu yang mengajak kita kembali ke tahun 1940-an dan lokasinya di sebuah rumah sakit jiwa. Tidak seperti rumah sakit yang lain, tempat ini bagus dan mewah. Ditambah dengan pakaian ala ala gaun, rambut, dan topi yang cantik sekale. Colorful. Tapi tetep serem gais. Boleh diinget ini tahun 1940-an, dimana IPTEK belum berkembang seperti sekarang. Lesbian masih dianggap gangguan jiwa dan rumah sakit itu mencoba untuk menyembuhkan lesbian. How? Tentu, dengan praktik penyembuhan yang agak sadis dan tidak masuk akal.

Awalnya nonton series ini aku kira semuanya gila gais, bukan cuma pasiennya, termasuk dokternya juga. Lulz. Ratched pun awalnya keliatan gila, perwakilan pemerintah yang gila voting juga kayanya psikopat karena sanggup melakukan hal-hal sadis demi mendapatkan dukungan masyarakat, serta perawat yang iya iya aja disuruh melakukan treatment gila oleh dokter. Gua bingung kok gila semua. Apa jangan-jangan ini series kebalik gais. Yg waras jadi pasien dan yang gila malah jadi otoritas wkwk. Ngeri bgt woii… Tapi untungnya series Ratched tidak sejauh itu. Meskipun semua orang di dunia ini memiliki gangguan mental dengan spektrum yang berbeda-beda, series ini menyajikannya dengan cukup masuk akal dan dapat dimengerti.

Selain kelebihannya dalam menyajikan visual yang menarik dengan alur yang greget, series ini mendapatkan kritik yang lumayan keras dari segi penggambaran tokoh seorang Ratched. Disebutkan bahwa series Ratched yang diadaptasi Netflix ini tidak sesuai dengan karakter Ratched yang sesungguhnya. Perlu kita ketahui bahwa series ini diadaptasi dari sebuah novel karangan Ken Kesey yang berjudul “One Flew Over the Cuckoo’s Nest”. Novel tersebut menceritakan sebuah kesuraman hidup pada masanya dimana banyak manusia yang tersiksa karena peraturan dan ketertiban birokrasi. Nah, temen-temen, aku pun belum baca novelnya tapi nanti pasti akan ku baca ya. Aku dapat dari sumber internet bahwa suster Ratched yang digambarkan dalam novel adalah orang biasa. Manusia normal yang menjadi bagian dari birokrasi. Ia dinilai cukup pedih, justru karena kenormalannya itu. Nah, sungguh berbeda dengan adaptasi Netflix yang menggambarkan suster Ratched sebagai sosok anomali karena sejak kecil hidup dalam kemiskinan dan kekerasan.

Aku jadi penasaran nih, mau baca novelnya dan juga filmnya yang rilis pada tahun 1963 dengan judul yang sama. “One Flew Over the Cuckoo’s Nest.”

Sembari menunggu season keduaaa~ See you~


Jumat, 02 Juli 2021

Sinopsis Film “I Care A Lot” a la Nabsaurus



Haiii teman-temann sepernumpangan Netflix-kuuuuu. Kali ini aku mau bikin sinopsis film “I Care A Lot” yang berkisah tentang Marla, seorang guardian yang bekerja merawat orang jompo. Nah, bagi kalian yang ingin terjun kedalam karir perjompoan boleh nih belajar dari Marla. Ooops haha.

Marla ini digambarkan sebagai seorang cewek yang tidak takut apapun dan memiliki determinasi serta fokus yang tinggi dalam mengemban karirnya. Hal ini termotivasi dari gagasan bahwa hidup kalau tidak memangsa yaaa berarti dimangsa. Kalau tidak menindas yaaa berarti menindas. Begitu kata jeunnngggg Marla. 

Film yang bergenre dark comedy ini memiliki karakter mafia yang gak serem-serem amat layaknya di film John Wick gais. Meski begitu, tetap ada adegan ancaman dan upaya pembunuhan yang dilakukan oleh mafia tersebut terhadap Marla. Ancaman dan upaya pembunuhan ini dibalas oleh Marla, penasaran bgt gak sihh alurnya bagaimana kok bisa seorang wanita bersama satu rekannya membalas perbuatan bos mafia. Uhuuu... Marla bukan tipe cewe yang dibentak nangis ya gaiss. wkwk haduu jauh bgttt dhhhh 

Jadi, Mafia itu tidak membuat hati Marla terenyuh. Tidak sedikitpun energi ambisius Marla dalam mempertahankan karirnya menciut. Malah sebaliknya. Pertarungan strategi yang sengit dengan bos Mafia itu seperti bensin bagi api ambisi Marla. Uwowwwwww. The power of DETERMINASI alias keteguhan hati gaiss.

            Selain kekuatan dari karakter utamanya, film ini juga menarik karena dikatakan oleh berbagai sumber sebagai sebuah kritik terhadap dunia kesehatan. Saya setuju, ada konspirasi antara dokter dengan sang guardian dan dalam dunia kesehatan, kita harus jeli bahwa syarat dan ketentuan untuk mendapat perawatan yang proper masih berlaku gaisss. Bagi kalian yang tertarik seputar dunia kesehatan dan bisnis boleh banget nonton film ini.