Haii teman-teman semuaa kali ini aku mau ceritain pengalaman aku berwisata ke Baduy Dalam…
Unch unch unchhhh, adinda aposkaa siihhh bun di Baduy
Dalam?
(Nanti aku ceritain dibawahhh)
Sebetulnya mungkin sekitar tiga atau
empat tahun yang lalu aku sudah berencana mau ke Baduy bareng temen2 EET (Etno
Edu Trip) à yaituu sebuah acara tahunan mahasiswa Antropologi untuk
berjalan-jalan sekaligus memperkuat pengalaman riset di berbagai desa. Hanya
sajaaa aku tidak jadi ikut meski sudah bayar (no refund ☹)
karena disuruh pulang mamaku.
Nah di pertengahan September ini
seorang teman baik (yang masih single 😊) sebut saja inisialnya D-i-t-y-a tiba-tiba mengajakku untuk HEALING
dengan berwisata ke Baduy Dalam. Dicarilah jasa Open Trip lewat Instagram dan
minggu berikutnya kami cusss berangkat.
Tidak mahal, untuk biaya OT per orang
cukup mengeluarkan uang sebesar 200 ribu rupiah, include travel elf dari
stasiun Rangkasbitung ke terminal Cikaeum (PP), tour guide yang ramah, serta
penginapan selama satu malam di rumah nativenya. Ohiya aku berangkat hari Sabtu
24 Sept-25 Sept hari Minggu. FYI kira-kira dari terminal Cikaeum ke Baduy Dalam
itu berjarak 12 Km dengan medan yang beuhh, pokoke klo gak nyungsep atau
kejengkang anda hebat si.
Nah ada apa aja sih di Baduy Dalam😉?
Nih aku spill ya,
Baduy dalam tepatnya di Kampung Cibeo ada pemukiman warga Baduy Dalam
yang kompak! Kenapa kompak? Sebab, dari bahan bangunan rumah, cara membangun
struktur rumah (tidak boleh menggunakan paku), hingga pakaian mereka semuanya
sama. Untuk sekilas, warga Kampung terlihat egaliter, tidak ada keluarga yang
lebih menonjol dari keluarga lainnya. DISCLAIMER: Cuma sekilas ya gais, karena
aku disana hanya semalaman. Meskipun egaliter, terlihat sedikit hierarki dalam
struktur masyarakatnya dengan adanya Puun atau ketua adat. Ketua adat memiliki
tugas untuk memimpin masyarakat dalam memutuskan suatu hal, baik itu berupa
perjodohan/pernikahan, pembagian tanah adat untuk dikelola, hingga hukuman bagi
anggota masyarakat yang melanggar peraturan di desa. Mungkin masih banyak lagi,
seperti memimpin berbagai ritual, hanya saja aku belum berkesempatan untuk menggali
lebih dalam.
Di Baduy Dalam, juga terdapat beberapa kampung lain. Jujurly aku lupa masing-masing
dari kp tersebut, yang aku ingat adalah setiap kp memiliki keunggulannya
masing-masing, ada yang unggul di bidang keagamaan, ada yang unggul di bidang
hasil perladangan, ada juga yang unggul di bidang kerajinan. (aduh gais aku
banyak lupa coba kalian langsung aja deh ke Baduy Dalam hehe).
Baduy Dalam juga memiliki keindahan alam yang masih asri, dibuktikan
dengan adanya spesies serangga yang masih bertahan di sekitar sungai seperti
capung yang bewarna hijau metalik dan ungu. Sangat cantik. Capung disini memiliki
sayap yang berwarna mencolok. Biasanya, capung yang aku lihat sayapnya transparan,
tapi capung yang aku lihat di sungai di Baduy Dalam ini memiliki sayap berwarna
seperti kupu-kupu tapi kecil.
Berasa seperti di surgaaa gak sihhh, mandi di sungai ditemani dengan serangga
yang cantikk. Ohiya ketika malam, aku mandi di sungai Bersama temanku, kami
melihat beberapa kunang-kunang, sungguh pemandangan yang sangatttt
mesmerizinggg alias mempesona. Benar-benar seperti hidup di fairytale. Satu hal
yang harus kalian tahu, ketika kita berada di Baduy Dalam, gak boleh yang
namanya mandi menggunakan sabun atau sikat gigi dengan pasta gigi. Jadi disini
0 limbah domestik untuk kebutuhan mandi. Tahukah kamu bahwa limbah yang
mencemari sungai di Jakarta paling banyak adalah limbah domestik seperti sampo?
Hal ini kuketahui ketika membaca laporan riset mengenai air untuk tugas kuliah
lho.
Perjalanan saya ke Baduy Dalam tidak
terlepas dari botol platik yang dijual di beberapa tempat selama perjalanan di
hutan, di sisi lain saya sangat kesulitan dalam menemukan tempat sampah. Sebuah
ironi ya, jangan sampai tingginya minat masyarakat luar terhadap Baduy turut menyumbang
sampah dan merusak keasrian daerah di Baduy. Jangan sampai juga botol-botol plastik
tersebut menyentuh tanah dan sungai di kawasan Baduy tersebut. Saya juga berharap,
pemerintah bisa memberikan solusi berupa pembangunan infrastruktur yang memadai
untuk pengolahan dan pemanfaatan air tanpa botol kemasan. Saya juga sedikit kecewa
melihat sampah bekas jajanan tertinggal di rumah para native, tolong bila anda
adalah petualang jagalah kebersihan dan hargailah tempat kita bersinggah. Kalau
tidak mau cape-cape membawa kembali sampah yang sudah kamu bawa lebih baik tidak
perlu membawa jajanan apapun. BE MINDFUL BE THOUGHTFUL!

