Ketika
anda tinggal di sebuah rumah yang penuh dengan kecoak lantas hal pertama yang
ada dalam pikiran anda pasti mencoba untuk membasmi kecoak-kecoak tersebut
menggunakan “obat-obatan” yang sering anda lihat di iklan, baik itu berupa spray
pembasmi kecoak maupun dengan pewangi ruangan atau berbagai kamper yang bisa
anda dapatkan di warung dan minimarket. Namun, ketika anda telah gunakan alat
pembasmi tersebut nyatanya kecoak tidak juga mati. Mungkin hanya pingsan atau
bisa jadi hanya pura-pura mati. Ternyata, kecoak-kecoak tersebut telah
mengalami koevolusi sehingga tubuhnya menjadi resisten.
Ilustrasi
kecoak diatas adalah gambaran dari masifnya hoax yang ada di Indonesia.
Negri yang indah ini telah banyak dikotori oleh produsen hoax yang
semakin konsisten dan terstruktur terutama sejak pilpres 2014. Indonesia yang
merupakan rumah bagi kurang lebih 260 juta jiwa menjadi rumah yang kotor akibat
kelimpahan hoax.
Sebagian dari kita pun berpikir, bagaimana caranya membersihkan rumah yang
besar ini dari kotoran-kotoran hoax?
Ketika kita ingin membasmi hoax,
maka kita harus mengidentifikasi dulu para produsen hoax dari tujuannya,
bukan siapanya. Di tahun-tahun politik seperti ini, jelas para produsennya memiliki motif untuk
merebut suara rakyat lewat pembodohan dan ujaran-ujaran kebencian terhadap
lawan politiknya dengan narasi hoax. Ada dua perkara besar yang lahir
dari hoax yaitu konflik dan perpecahan bangsa serta penghilangan fokus
pada permasalahan-permasalahan yang sesungguhnya
ada di Indonesia.
Sebagai
anak muda, sudah tentu kita harus optimis terhadap segala permasalahan yang ada
di Indonesia demi masa depan bangsa kita yang lebih baik. Ingatkah kalian bahwa
bangsa kita pernah menang melawan penjajah dan juga menumbangkan rezim otoriter
yang telah berkuasa selama 32 tahun di tanah air ini? Semua itu bisa dicapai
karena bangsa kita memiliki cita-cita yang sama. Cita-cita untuk merdeka dan
cita-cita untuk memperbaiki negri ini dari kekuasaan otoriter yang mencekal
orang dalam berekspresi dan berpendapat.
Begitu juga dalam melawan hoax,
biang keladi yang membuat bangsa kita sering berdebat kusir dan hal-hal yang
sama sekali tidak ada manfaatnya untuk kemajuan negri. Untuk masalah ini, kuncinya
adalah cita-cita bersama. Kita selalu bisa karena kita mempunyai cita-cita yang
sama. Menurut saya, pemerintah bersama para intelektual perlu untuk merumuskan invented
tradition yang dapat membuat bangsa kita kembali bersatu. Bukan perkara mudah
memang, tetapi bisa dipikirkan dan diusahakan. Jangan sampai pemerintah dan
para intelektual justru ikut tenggelam dalam polarisasi ekstrem akibat hoax dan
perang kepentingan.
Menurut saya, menuju Indonesia emas
2045 perlu digaungkan oleh pemerintah serta pendapat-pendapat dari para ahli
mengenai prediksi ataupun antisipasi untuk masa mendatang. Revolusi industri 4.0
pun perlu banyak disosialisasikan kepada masyarakat. Indonesia emas 2045 dan industri
4.0 perlu banyak untuk dikenalkan kepada masyarakat agar mereka mengetahui
posisinya sekarang dan tantangan-tantangan apa saja yang bakal mereka hadapi di
masa mendatang. Hal tersebut sangat penting mengingat bonus demografi yang akan
Indonesia dapatkan di tahun 2020-2045, bila bonus demografi ini lewat dengan ketidaksiapan
maka jelas akan terjadi bencana dimana jumlah usia tidak produktif setelah masa
emas 2045 berjumlah lebih besar daripada usia produktif.
Melawan hoax dengan
memenjarakan para produsennya jelas bukan solusi yang tepat bagi bangsa kita,
karena seperti ilustrasi diatas, para produsen hoax sudah resisten.
Tidak mempan dengan laporan ke polisi. Ada beberapa hambatan, seperti prosedur
yang berbelit-belit, pencucian tangan, minta maaf dan klarifikasi, serta
sulitnya melacak pelaku hoax. Bisa juga dikatakan, pembuat hoax baru
dilapor tetapi hoaxnya sudah tersebar kemana-mana dan masyarakat sudah
terlanjur mempercayainya.
Kesimpulan saya, cara yang efektif
dalam melawan hoax adalah dengan kerjasama antara pemerintah dengan para
intelektual untuk merumuskan invented tradition, upaya untuk menciptakan
cita-cita bersama. Hal ini kebetulan sejalan dengan Indonesia emas 2045 dan industri
4.0. Kedua momen tersebut dapat digunakan oleh pemerintah dalam menyatukan bangsa
Indonesia yang sekarang banyak terjadi konflik atas polarisasi ekstrem dari hoax
politik belakang ini. Kedua momen tersebut harus disosialisasikan dengan
gencar agar masyarakat dapat bersatu bersama-sama membangun Indonesia dan
dengan begitu, berita-berita hoax tidak akan laku dengan sendirinya. Masyarakat
perlu disibukkan untuk mencintai negaranya, dengan pengetahuan-pengetahuan yang
membangun.
Amat relevan apalagi lagi anget-angetnya nih isu, belum basi
BalasHapusOpini yang membangun dan kenyataan yang digambarkan fair enough!