Hi manteman. Udah tiga hari ini sejak baca
bukunya Ki Hadjar Dewantara yang berjudul Pantjasila aku overthinking. Ya,
ide-ide mengenai Pantjasila itu terus running di kepalaku. Jadi aku tuliskan saja disini ya, to keep my mind in order. Dan semoga semua bangsa Indonesia bisa
memahami Pancasila secara dalam dan luas. Amin Ya Allah.
Ada banyak yang bisa ditulis dari Pancasila, namun
fokus dalam artikel blog kali ini adalah membedah urutan-urutan Pancasila.
Sila pertama yaitu “Ketuhanan Yang Maha Esa.”
Sebagai mahasiswa ilmu antropologi saya belajar untuk melihat segala sesuatu secara keseluruhan dan memperhatikan konteks. Nah, dalam memahami Pancasila perspektif ini sangat diperlukan agar kita tidak terjebak dalam peng-interpretasi-an yang literal dan sempit.
Dalam buku Pantjasila yang ditulis oleh
Ki Hadjar Dewantara ini, sila Ketuhanan yang Maha Esa adalah sebuah semangat yang dapat membawa
bangsa kita menuju pribadi yang melampaui materi. Ini adalah upaya daripada
para pendahulu kita supaya bangsa kita berbeda dengan bangsa penjajah kala itu
yang sanggup menyiksa orang, melepeh kemanusiaan demi kepentingan materi.
Bangsa kita tidak seharusnya seperti itu, bangsa kita adalah bangsa yang
melampaui materi dan mengedepankan keluhuran
budi dan kehalusan jiwa.
Jadi dalam sila pertama ini kita lihat
konteksnya, bahwa dalam masa perumusan Pancasila para pendahulu bangsa kita
mengupayakan untuk membedakan diri dari para penjajah kolonial dengan menjadi
bangsa yang berketuhanan.
Tapi, bukan berarti bahwa bangsa kita perlu
mempermasalahkan agama, tuhan atau kondisi spiritual orang lain yang tidak merugikan
siapapun. Disinilah selain melihat konteks, kita perlu melihat sila pertama ini
secara keseluruhan. Disebutkan dalam “Pantjasila”, bahwa Pancasila adalah
puncak sekaligus sari daripada Mukadimah alias Pembukaan Undang-Undang Dasar
1945. Oleh karena itu, dalam melihat Pancasila kita perlu mengacu juga pada
Pembukaan UUD ’45 tersebut yang berisi bahwa bangsa kita menghendaki
diantaranya kecerdasan bangsa, perdamaian abadi, dan kemanusiaan yang
universal. Sekarang marilah kita bertanya pada diri sendiri, apakah mencerdaskan
bangsa, menghendaki perdamaian abadi, dan kemanusiaan yang universal harus
dibawah naungan agama tertentu?
Menurut saya jawabannya jelas, tidak perlu
menganut agama tertentu dalam mencapai ketiga cita-cita tersebut.
Dalam bukunya, Ki Hadjar Dewantara menyebutkan
bahwa penggagas Pancasila adalah orang beragama dalam artian positif, yaitu
mengedepankan kemanusiaan yang seluas-luasnya. Bukan beragama yang negatif atau
mistis/simbolis belaka. Oleh karena itu, sila kedua adalah “Kemanusiaan yang
adil dan beradab.”
Sila kedua, kemanusian yang seluas-luasnya. Menurut saya, sila
kedua ini perlu pemahaman keanekaragaman manusia terlebih dahulu, lalu memiliki
sikap toleran, dan barulah kita dapat memiliki sikap kemanusiaan.
Sangat tidak Pancasila bila seseorang mempermasalahkan agama orang
lain dalam berkehidupan di Indonesia. Ingat, Bhinneka Tunggal Ika. Dan maknai
sila pertama dengan melihat konteks dan secara keseluruhan seperti yang sudah
diuraikan diatas.
Lalu sila ketiga “Persatuan Indonesia.” Negara Indonesia sejak awal
dirumuskan adalah sebagai negara modern. Negara kita tidak mengambil satu
identitas suku mayoritas sebagai identitas nasional sehingga negri yang terdiri
dari berbagai suku ini dapat hidup berdampingan bersama-sama dibawah identitas
nasional bangsa Indonesia. Bahkan Soekarno sempat berpidato bahwa Indonesia
bukan milik Islam, bukan milik Kristen, Indonesia adalah seperti kaki seribu,
bangsa yang dibangun bersama-sama dari berbagai suku bangsa dan budaya.
Sila keempat “Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan
dalam permusyawaratan perwakilan.” Ada dua hal yang perlu kita tekankan disini.
Yang pertama adalah Haluan bangsa kita yang mengutamakan rakyat. Jadi, seharusnya
di Indonesia ini kita mengutamakan rakyat, bangsa yang memiliki haluan marhaen.
BUKAN fasis, feodalis, kapitalis, dan imperialis.
Tapi yagitu, pemerintah kita terasa sangat kapitalis karena dipegang
oleh oligarki dengan birokrat abdi dalem yang sangat feodalis. Ini menunjukkan tidak ada kepribadian Pancasila dalam mayoritas pemegang
otoritas. Ki Hadjar Dewantara dalam bukunya
pun menyebutkan bahwa organisasi pemerintah tanpa adanya spirit Pancasila akan
menimbulkan akal muslihat bagi orang yang berkepentingan.
Kita pasti banyak membaca kritik tentang kondisi negara kita. Ada
yang mengatakan bahwa kehidupan bernegara seperti kondangan dimana yang datang
duluan mendapat makanan yang paling banyak. Berebut kue kekuasaan adalah
istilah yang lazim kita dengar pasca pesta demokrasi alias ketika pemenang elektoral dinyatakan sah
dalam memegang kekuasaan.
Yang kedua adalah demokrasi. Negara kita adalah negara demokrasi,
hanya saja untuk mengantisipasi proses demokrasi yang bisa saja meluap-luap dan
memunculkan sentimen kesukuan maka sila kelima dari Pancasila adalah “keadilan
sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.”
Meskipun setiap orang berhak bersuara dalam negara demokrasi,
bangsa kita tetap kembali kepada keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia. Sila
kelima adalah sila yang paling mudah dipahami oleh orang awam. Sedangkan sila pertama sampai sila keempat
perlu pembelajaran yang lebih dalam. Oleh karena itu, gaungan dalam pembukaan
UUD 1945 tentang mencerdaskan bangsa bukanlah pernyataan formal belaka. Pernyataan itu adalah pernyataan sekaligus amanat yang sangat
penting bagi bangsa kita.
Nah menurut manteman gimana nih? Sudah berhasilkah pemerintah dalam mencerdaskan bangsa? Mengecilkah inequality dalam bidang pendidikan dari waktu ke waktu atau tidak ada perubahan dan malah melebar?
Bisik-bisik dari seorang professor terkenal katanya sih budaya ilmiah kita mundur. Dibuktikan dengan maraknya argumen ad hominem oleh tokoh-tokoh penting yang bahkan sampai membuat sosmed kita bising lantas permasalahan bangsa yang signifikan malah jadi terabaikan. Stop stopp. Okaiii segitu aja ya gaiss untuk pembahasan urutan-urutan Pancasila, dan pembahasan mengenai pendidikan akan ada sesinya di lain waktu.
Terimakasih sudah membaca, semoga kita semua mendapat anugrah yang luar biasa berupa menjadi manusia berkepribadian Pancasila 😊😊😊
